SINGAPURA, SUMATERATODAY.COM- Harga minyak dunia kembali melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sembari menunggu perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diharapkan mampu mengakhiri konflik sekaligus memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Berdasarkan perdagangan pagi, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 32 sen atau sekitar 0,4 persen menjadi US$79,04 per barel, atau setara sekitar Rp1,42 juta per barel dengan asumsi kurs Rp17.925 per dolar AS.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 58 sen atau 0,8 persen menjadi US$75,19 per barel, atau sekitar Rp1,35 juta per barel.
Kedua kontrak acuan tersebut sebelumnya juga mencatat penurunan tajam lebih dari 5 persen pada perdagangan Selasa. Bahkan, harga Brent ditutup di bawah level psikologis US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli.
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah Qatar mengungkapkan bahwa proses mediasi untuk mengakhiri perang menunjukkan perkembangan positif. Pernyataan tersebut memunculkan optimisme bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dapat segera mereda sehingga risiko gangguan pasokan energi global ikut berkurang.
Meski demikian, pemerintah Iran membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya mengklaim pembicaraan dengan Teheran tengah berlangsung.
Kepala Riset Pasar Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengatakan premi risiko geopolitik memang mulai menyusut. Namun, kondisi pasokan minyak global masih memerlukan perhatian karena situasinya dapat berubah dengan cepat.
Menurutnya, apabila jalur diplomasi gagal mencapai kesepakatan dan pasokan minyak benar-benar terganggu, penurunan harga yang terjadi saat ini kemungkinan hanya bersifat sementara.
“Jika upaya diplomatik gagal dan distribusi fisik minyak terdampak, pasar dapat kembali menghadapi lonjakan harga karena persediaan yang semakin ketat akan memperbesar dampak gangguan pasokan,” ujarnya.
