“Saat ini pasar lebih fokus pada situasi pasokan di AS. Karena penyusutan pasokan dari perpanjangan oenutupan produksi di sana mulai terasa,” ujar Andrew Lebow, senior partner Commodity Research Group, dilansir Bloomberg, Sabtu (11/9/2021).
Pasar minyak tertekan oleh produksi di Meksiko yang terhenti sejak dilanda badai Ida dan merosotnya pasokan di Amerika sehingga memicu sentimen bullish.
Tim riset Monex Investindo Futures (MIFX) mengatakan harga minyak ke depan tertopang optimisme meningkatnya permintaan minyak mentah setelah pembahasan presiden AS-China untuk tidak saling melakukan konfrontasi kembali di masa mendatang “Jika harganya naik ke atas level US$69,50, berpotensi dibeli menguji kisaran US$70,00 – US$70,60 per barel,” jelas tim riset MIFX. Sementara itu, jika harganya turun ke bawah level US$68,55, berpeluang dijual menguji kisaran US$67,10 – US$67,55 per barel.(bisnis.com)
