Dengan anggaran sebesar Rp25,99 miliar, 310 dari 430 rumah tersebut telah berubah menjadi homestay di beberapa desa seperti Desa Ngadisari, Desa Tosari, dan Desa Wonokitri.
Ali Murtado dari Ditjen Perumahan menyebut bahwa renovasi ini mengedepankan desain modern namun tetap mempertahankan kearifan lokal masyarakat Suku Tengger. “Kami berharap dengan kualitas rumah yang meningkat, para wisatawan yang menginap akan merasa lebih nyaman,” kata Ali.
Sebagai contoh, Sudaryanto dari Desa Ngadisari, pemilik Homestay Darsana, mengungkapkan bahwa program ini telah membantu meningkatkan penghasilan keluarganya. Ia berharap ada pelatihan lebih lanjut mengenai pengelolaan dan pelayanan homestay. (*)
