Terungkap! Kisah Lahirnya Sholawat Wahidiyah yang Berawal dari Amanah Ghaib kepada KH Abdoel Madjid Ma’roef

Dari Kediri untuk Dunia, Begini Sejarah Lengkap Lahirnya Sholawat Wahidiyah
Dari Kediri untuk Dunia, Begini Sejarah Lengkap Lahirnya Sholawat Wahidiyah

Dalam suasana batin yang penuh kekhusyukan dan munajat kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW, KH Abdoel Madjid Ma’roef mulai menyusun rangkaian doa sholawat.

Beliau sendiri mengaku sebelumnya tidak pernah memiliki rencana untuk menyusun sebuah sholawat.

Proses penyusunan itu muncul secara alami sebagai bagian dari perjuangan spiritual yang dijalaninya.

Mulai Disebarkan kepada Masyarakat

Setelah tersusun, dua rangkaian awal Sholawat Wahidiyah mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui pengajian rutin Kitab Al-Hikam di Pondok Pesantren Kedunglo.

Seiring meningkatnya jumlah masyarakat yang ingin mengamalkan Sholawat Wahidiyah, dibuatlah lembaran sederhana menggunakan teknik stensil agar lebih mudah dibagikan kepada para jamaah.

Pada awal 1964, penyebaran Sholawat Wahidiyah semakin meluas.

Lembaran tersebut mulai dicetak secara lebih banyak menjelang peringatan satu tahun kelahirannya atau dikenal dengan istilah Eka Warsa.

Pada tahun yang sama dibentuk Organisasi Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) sebagai wadah resmi untuk membina, membimbing, dan menyebarluaskan pengamalan Sholawat Wahidiyah kepada masyarakat.

Disusun Bertahap Selama 17 Tahun

Penyusunan Sholawat Wahidiyah ternyata tidak selesai dalam waktu singkat.

Beberapa bagian terus mengalami penyempurnaan melalui berbagai kegiatan Asrama Wahidiyah pada 1964 hingga 1965.

Penyempurnaan terakhir dilakukan pada 2 Mei 1981 atau bertepatan dengan 27 Jumadil Akhir 1401 Hijriah.

Artinya, proses penyusunan hingga menjadi bentuk yang dikenal masyarakat saat ini berlangsung selama sekitar 17 tahun 7 bulan 17 hari.

Bertujuan Memperbaiki Akhlak dan Kesadaran kepada Allah

Menurut keterangan resmi Wahidiyah Pusat, Sholawat Wahidiyah merupakan rangkaian doa yang disusun sebagai media mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Selain menjadi amalan sholawat, Wahidiyah juga bertujuan membangun kesadaran spiritual, memperbaiki akhlak, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan kepedulian sosial di tengah kehidupan masyarakat.

Sejak pertama kali diijazahkan kepada masyarakat pada 1963, pengamal Sholawat Wahidiyah terus berkembang di berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Hingga kini, Pondok Pesantren Kedunglo di Kota Kediri masih menjadi salah satu pusat kegiatan Wahidiyah, sekaligus tempat berlangsungnya berbagai kegiatan keagamaan yang diikuti jamaah dari berbagai wilayah. Sumber: Wahidiyah Pusat (wahidiyah.org) dan sejarah Pondok Pesantren Kedunglo.

Exit mobile version