SPORT  

Upacara Pembukaan Olimpiade Paris 2024 Menuai Kontroversi Akibat Parodi Perjamuan Terakhir

Pembukaan Olimpiade Paris 2024 Dinilai Hina Agama dan Promosikan LGBT

“Mereka tidak bisa membedakan menampilkan seni untuk ajang perhelatan akbar sedunia olahraga Olimpiade dengan Gay Pride, yaitu parade kaum LGBTQ+,” jelas Riza. Ia juga menganggap bahwa pertunjukan tersebut tidak mencerminkan kredo masyarakat Prancis secara umum dan didominasi oleh kelompok super-minoritas.

Pandangan Berbeda: Nilai-nilai Inklusivitas dan Keterbukaan

Sebaliknya, Pengamat Sosiologi jebolan Universite Paris Diderot, Airin Miranda, menilai pertunjukan tersebut sebagai pesan inklusivitas dan keterbukaan yang mencerminkan nilai-nilai Prancis, yaitu kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.

Menurutnya, pertunjukan yang melibatkan drag queen adalah upaya untuk menunjukkan penghormatan terhadap perbedaan dan pengakuan akan keberagaman di Prancis.

“Kesempatan ini juga menjadi ajang untuk menunjukkan nilai-nilai yang dijunjung oleh Prancis yang sekuler, yang mereka sebut sebagai nilai-nilai republikan, yaitu Liberte, Egalite, Fraternite atau Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan dan penolakan akan diskriminasi,” jelas Airin kepada NU Online.

Ia meyakini motif utama pertunjukan tersebut adalah promosi nilai-nilai keterbukaan dan kesetaraan yang menjadi landasan negara Prancis.

Airin juga menolak anggapan bahwa pertunjukan tersebut meniru adegan Last Supper dan menegaskan bahwa tokoh Dionisos yang muncul dalam pertunjukan tersebut lebih relevan dengan tema inklusivitas dan keberagaman daripada penistaan agama.

“Jika kita fokus pada pertunjukan pagelaran busana di atas meja makan yang disebut meniru adegan Last Supper, sebetulnya belum bisa dibuktikan, karena aspek-aspek yang dikatakan ‘mirip’ dengan kisah di Alkitab itu tidak bisa ditemukan dalam pertunjukan dengan drag queen tersebut,” jelasnya.

Airin juga menambahkan bahwa pertunjukan tersebut mencerminkan perubahan sosial dan politik di Prancis, dengan koalisi partai kiri yang kini mendominasi parlemen dan mendukung kaum marjinal.

“Bila kita kaitkan dengan hasil pemilu legislatif yang memenangkan koalisi partai kiri, setelah cukup lama parlemen Prancis dikuasai koalisi partai kanan, hal ini bisa juga dimaknai sebagai perubahan sosial dan politik di Prancis saat ini,” jelasnya.

“Aliran politik kiri dikenal selalu mendukung perbedaan dan membela kaum marjinal. Kemenangan politik kiri adalah jaminan pengakuan dan perhatian yang lebih besar terhadap kaum ini,” pungkasnya.

Exit mobile version