Ustaz Abdul Somad Hadir dalam Peringatan Tahun Baru Islam 1447 H di Palembang

UAS mengingatkan umat bahwa usia akan berhenti, namun amal jariah akan terus mengalir meskipun seseorang telah tiada
UAS mengingatkan umat bahwa usia akan berhenti, namun amal jariah akan terus mengalir meskipun seseorang telah tiada

sumateratoday.com- – Ribuan masyarakat Palembang tumpah ruah di kawasan Benteng Kuto Besak, Sabtu malam (6/7), dalam acara Peringatan Tahun Baru Islam 1447 Hijriah dan malam Asyura yang dihadiri oleh ulama ternama, Ustaz Abdul Somad (UAS). Dengan penuh semangat, UAS mengingatkan umat bahwa usia akan berhenti, namun amal jariah akan terus mengalir meskipun seseorang telah tiada.

Acara ini sekaligus menjadi refleksi 100 hari kepemimpinan Walikota Palembang, H. Ratu Dewa, dan Wakil Walikota, H. Primasalam, yang turut hadir bersama jajaran pemerintah, para habaib, alim ulama, serta seluruh lapisan masyarakat.

Usia Berhenti, Amal Jariah Terus Mengalir

Dalam tausiyahnya, UAS menekankan pentingnya amal jariah sebagai bekal abadi setelah kematian. “Semua kita akan mati, tapi amal jariah seperti membangun masjid, membantu fakir miskin, mendidik anak yatim akan terus mengalir, meskipun kita sudah tidak ada di dunia,” ujar UAS, disambut gemuruh takbir dari ribuan jamaah.

UAS pun mengapresiasi inisiatif Walikota dan Wakil Walikota Palembang yang telah memberikan perhatian besar terhadap pembangunan masjid, pemberian insentif marbot, imam, dan petugas kebersihan masjid selama 100 hari masa pemerintahan mereka.

Makna Tahun Baru Hijriah: Bermusyawarah dan Berstrategi

UAS juga membahas sejarah penetapan Tahun Baru Islam, yang berawal dari ijtihad para sahabat Nabi Muhammad SAW, khususnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Dalam peristiwa itu, setelah melalui musyawarah, disepakati bahwa tahun baru Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

“Hijrah bukan sekadar pindah tempat, tapi meninggalkan apa yang dilarang Allah. Meninggalkan maksiat, meninggalkan pacaran, meninggalkan perbuatan sia-sia,” terang UAS, sembari menyindir para remaja yang masih suka pacaran agar segera hijrah ke jalan yang diridhai Allah SWT.

UAS mengajak masyarakat meneladani sikap Sayyidina Umar yang tidak pernah mengambil keputusan sendiri, meski beliau sahabat dekat Rasulullah, bahkan dijamin masuk surga. “Kalau Sayyidina Umar saja bermusyawarah, kita juga harus musyawarah, termasuk dalam menentukan arah pembangunan kota,” lanjutnya.

Dukung Pemimpin yang Amanah

Kepada Walikota Ratu Dewa dan Wakil Walikota Primasalam, UAS menyampaikan apresiasi atas komitmen mereka meminta nasihat para ulama dan tokoh agama dalam menjalankan pemerintahan. Menurut UAS, kerjasama antara ulama dan umara adalah kunci mewujudkan kota yang sejahtera dan mendapat berkah Allah SWT.

“Ulama punya ilmu, umara punya kebijakan. Ketika keduanya bersinergi, Insya Allah Palembang menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, negeri yang baik dan dirahmati Allah,” tuturnya.

Ia juga menyinggung soal kehadirannya yang sering di Palembang, yang sempat menimbulkan pertanyaan sebagian pihak. Dengan lugas, UAS menjelaskan bahwa dirinya adalah bagian dari Masfurah, organisasi yang aktif di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung, yang mengatur jadwal dakwahnya.

Pelajaran dari Hijrah Nabi: The Right Man on The Right Job

UAS mengingatkan pentingnya menempatkan orang-orang yang tepat di posisi yang tepat, sebagaimana strategi hijrah Nabi Muhammad SAW yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Abu Bakar As-Siddiq, Sayyidina Ali, Asma binti Abu Bakar, hingga penunjuk jalan Abdullah bin Uraiqith.

“Kalau kabinet Walikota dan Wakil Walikota sudah diisi orang yang tepat, Insya Allah pembangunan berjalan baik,” ujar UAS, sambil berdoa agar Palembang dipimpin oleh orang-orang berintegritas.

Palembang Kota Religius, Toleran, dan Harmonis

Dalam kesempatan tersebut, UAS juga menegaskan pentingnya menjaga toleransi beragama di Palembang, kota tertua di Sumatera yang dikenal sebagai pusat peradaban Islam. Namun, toleransi menurut UAS bukan berarti mencampuradukkan akidah, melainkan saling menghormati antar umat beragama.

“Kita bertetangga, berkawan, dan saling berbuat baik, tapi tetap menjaga akidah kita. Inilah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah berprasangka buruk atau suuzon terhadap sesama. Menurutnya, prasangka bisa menimbulkan fitnah dan perpecahan, sehingga penting untuk saling tabayun atau klarifikasi.

Ekonomi Umat Harus Bangkit

Tak hanya soal spiritual, UAS menekankan bahwa umat Islam harus bangkit di bidang ekonomi. Seperti halnya Nabi Muhammad SAW yang mendirikan pasar di Madinah untuk menyaingi pasar-pasar Yahudi yang penuh kecurangan.

Ia mengapresiasi upaya Pemkot Palembang dalam mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Ekonomi umat harus tumbuh, kemiskinan harus turun, dan kebuntuan harus diselesaikan,” tegasnya.

Asyura: Puasa dan Doa untuk Palestina

Malam peringatan Asyura ini juga dimanfaatkan UAS untuk mengajak umat berpuasa pada tanggal 10 Muharram sebagai wujud syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan tenggelamnya Fir’aun.

“Puasa Asyura adalah sunnah yang besar pahalanya. Mari kita niatkan untuk menggugurkan dosa setahun yang lalu,” ujarnya.

Di akhir ceramah, UAS mengajak seluruh jamaah berdoa untuk kemenangan rakyat Palestina dan keselamatan umat Islam di seluruh dunia. “Doa adalah senjata orang beriman. Mari kita terus mendoakan saudara-saudara kita di Gaza dan seluruh penjuru dunia,” pungkasnya.

Acara kemudian ditutup dengan shalawat bersama dan harapan besar agar Palembang menjadi kota yang lebih berkah, aman, damai, serta masyarakatnya sejahtera di bawah kepemimpinan yang amanah.

Exit mobile version