Di sisi lain, Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat (Strategic Petroleum Reserve) dilaporkan turun ke level terendah sejak 1983. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap ketahanan energi AS jika terjadi gangguan pasokan baru.
Laporan tersebut juga menyebut dunia kehilangan sekitar 1,15 miliar barel pasokan minyak selama konflik berlangsung. Pemerintah AS berupaya menstabilkan pasar dengan melonggarkan pembatasan ekspor minyak dari Rusia dan Iran serta melakukan pelepasan cadangan minyak darurat dalam skala besar.
Tekanan di sektor energi turut mendorong inflasi tahunan di AS kembali melampaui 4 persen untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan inflasi bahkan disebut melampaui pertumbuhan upah, sehingga daya beli pekerja Amerika mengalami penurunan.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump tetap menyatakan konflik tersebut membawa kemenangan bagi Amerika dan meyakini harga energi akan terus menurun.
Laporan CNN menyimpulkan bahwa perang melawan Iran justru meninggalkan beban ekonomi besar bagi Amerika Serikat, mulai dari meningkatnya pengeluaran pemerintah, menipisnya cadangan energi, hingga naiknya biaya hidup masyarakat.
