“Indonesia akan menjadi jembatan penghubung antara BRICS dan kawasan Indo-Pasifik, memastikan bahwa kepentingan negara-negara berkembang terus diperjuangkan,” tambah Sugiono.
Bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS menambah dimensi baru dalam pengelompokan ekonomi ini.
Sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara, Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dalam agenda pembangunan ekonomi, perdagangan, dan kolaborasi teknologi.
Namun, bergabung dengan BRICS juga menghadirkan tantangan tersendiri.
Secara historis, BRICS telah mengalami fluktuasi kepercayaan, terutama setelah Goldman Sachs menutup dana BRIC akibat kehilangan nilai aset hingga 88 persen sejak 2010. Kendati demikian, momentum ini memberikan Indonesia peluang untuk menjadi pemimpin baru di tengah dinamika ekonomi global.
PPTM 2025 yang menjadi agenda tahunan Kementerian Luar Negeri RI juga membahas prioritas strategis diplomasi untuk tahun-tahun mendatang.
Sugiono menekankan pentingnya mempertahankan posisi Indonesia sebagai negara yang berdaya saing di berbagai forum internasional.
“Diplomasi Indonesia akan terus berorientasi pada penguatan peran regional dan global. Dengan bergabungnya Indonesia di BRICS, kita memiliki kesempatan untuk memperkuat posisi ekonomi dan geopolitik negara kita,” ujar Sugiono menutup pidatonya.
Sebagai kelompok ekonomi yang awalnya berfokus pada Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok, BRICS telah menjadi simbol kolaborasi negara-negara berkembang dalam menghadapi dominasi ekonomi negara maju.
Penambahan Afrika Selatan, dan kini Indonesia, memberikan peluang baru bagi kelompok ini untuk terus relevan di era globalisasi.
Dengan bergabungnya Indonesia, BRICS kini memiliki kekuatan baru yang tidak hanya menambah bobot ekonomi tetapi juga memberikan perspektif strategis dari kawasan Asia Tenggara.
Kehadiran Indonesia di BRICS diharapkan dapat membawa semangat inklusivitas dan keseimbangan dalam tata kelola global.
