Teknologi ini tidak hanya mempermudah perencanaan dan deteksi benturan pada struktur, tetapi juga meningkatkan efisiensi pengelolaan proyek secara real-time.
Adjib menjelaskan, “Dengan BIM 5D, kami dapat memastikan efisiensi, presisi, dan kualitas konstruksi tetap terjaga sepanjang proses pembangunan.”
Tantangan Cuaca Ekstrem dan Dukungan Lokal
Pembangunan Tahap 1 menghadapi tantangan cuaca ekstrem, seperti angin kencang dan kabut tebal, yang memengaruhi pekerjaan lifting.
Untuk mengatasinya, KSO HK-YK menerapkan prosedur keselamatan ketat, termasuk menghentikan lifting saat jarak pandang terbatas dan menunda pengangkatan beban lebar ketika angin kencang.
Proyek ini juga melibatkan 15 vendor lokal dan menyerap 300 tenaga kerja lokal, memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat sekitar.
“Dukungan dari vendor dan tenaga kerja lokal tidak hanya memperlancar operasional tetapi juga memperkuat perekonomian warga di sekitar proyek,” tambah Adjib.
Manfaat dan Tahap Selanjutnya
Dengan rampungnya Tahap 1, Menara Turyapada diharapkan segera memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam memperkuat jaringan telekomunikasi di wilayah Singaraja dan sekitarnya.
Pada tahap berikutnya, pengembangan fasilitas tambahan akan dilakukan untuk meningkatkan daya tarik menara sebagai destinasi wisata unggulan Bali.
“Kami berharap kehadiran Menara Turyapada memberikan dampak positif bagi pariwisata dan ekonomi lokal Bali, serta memperkuat jaringan telekomunikasi di wilayah terpencil,” tutup Adjib.
