Respon Positif Pihak CCT dan Waskita Terhadap Keluhan Warga Terkait Proyek Tol Cibitung – Cimanggis

Akitivitas pembangunan Jalan Tol Cimanggis-Cibitung.
Akitivitas pembangunan Jalan Tol Cimanggis-Cibitung.

Selain itu, meminta pembatasan jam kerja pembangunan proyek juga wajar agar aktivitas konstruksi tidak mengganggu warga secara berlebihan.

Pihak proyek, yaitu PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dan PT Waskita Karya, seharusnya bersedia untuk berdiskusi dengan Abib dan warga untuk mencari solusi yang memadai dan adil yang dapat mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan semua pihak.

“Setidaknya, jam kerja bisa dikurangi paling lama sampai pukul 22.00 WIB. Pengerjaan proyek yang non stop membuat warga tidak dapat beristirahat nyaman, padahal mereka dituntut harus bangun pagi-pagi untuk bekerja,” imbuh dia.

“Bentuk kompensasi lain yang diminta adalah perhatian lebih terhadap kebutuhan sosial warga sekitar proyek. 
Kami berharap agar pihak CCT dan Waskita juga memprioritaskan pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR) di lingkungan sekitar terutama yang terdampak proyek,” kata dia.

Merupakan kabar baik bahwa pihak CCT dan Waskita merespons keluhan warga dan berjanji untuk memenuhi tuntutan mereka.

Ini adalah langkah positif menuju penyelesaian masalah dan pengakuan terhadap dampak yang telah dialami oleh warga setempat.

Pernyataan Dihny Puspita Aziz, QHSE Coordinator CCT, menunjukkan kesadaran mereka akan dampak sosial dan lingkungan yang mungkin timbul selama proyek konstruksi.

Sikap keterbukaan dan kesiapan untuk menangani keluhan masyarakat, termasuk masalah debu, adalah langkah positif dalam memastikan bahwa proyek-proyek besar seperti ini dijalankan dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

“Terkait dengan debu tadi, kita sudah melakukan penyiraman secara rutin dan memang lagi musim kemarau saat ini yang menyebabkan banyak debu,” jelas dia.

Analisis data di lapangan dan konsultasi dengan ahli kedokteran adalah langkah yang penting untuk memahami dampak kesehatan masyarakat dan lingkungan yang disebabkan oleh proyek ini.

Dengan pendekatan yang ilmiah dan data yang akurat, pihak proyek dapat mengidentifikasi masalah yang perlu diatasi dan merancang solusi yang tepat.

“Kita tidak bisa menjustifikasi itu disebabkan oleh debu atau bukan, kita harus berkoordinasi dengan rumah sakit terkait, apakah dampak dari debu atau bukan,” beber dia.

Pernyataan Dhiny yang menegaskan kesiapannya untuk bertanggung jawab jika ada keterangan resmi dari dokter Hyperkes yang mengonfirmasi dampak kesehatan warga akibat debu proyek tol adalah langkah yang transparan dan bertanggung jawab.

Ini menunjukkan komitmen pihak CCT untuk menyelesaikan masalah dengan itikad baik.

“JIka ada warga terdampak kita bisa konpensasi mereka, tapi dengan catatan bahwa itu (sakit ISPA karena debu) ada statement dari dokter hyperkes,” ujarnya.(*)

Exit mobile version