SUMATERATODAY.COM– Hampir dua tahun lamanya Asia menyaksikan perjalanan panjang dan berliku menuju panggung terbesar sepak bola dunia — Piala Dunia FIFA 2026. Ratusan pertandingan, ratusan gol, dan tak terhitung cerita perjuangan telah terukir.
Namun kini, semuanya mengerucut menjadi satu babak terakhir, satu langkah penentu yang hanya menyisakan enam negara dan dua tiket langsung menuju Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Mereka adalah Indonesia, Irak, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab — enam wajah Asia yang berjuang menembus batas, membawa harapan seluruh bangsanya.
Sementara enam negara lainnya — Australia, Iran, Jepang, Korea Selatan, Uzbekistan, dan Yordania — sudah lebih dulu memastikan tempatnya di Piala Dunia, enam tim ini masih harus menempuh perjalanan terakhir yang tak kalah mendebarkan.
Satu Peluang, Tiga Pertandingan, dan Tekanan Tak Terelakkan
Format babak keempat ini sederhana di atas kertas, tetapi kompleks di lapangan. Dua grup, masing-masing berisi tiga negara. Setiap tim hanya memainkan dua pertandingan, dan hanya juara grup yang berhak melangkah langsung ke Piala Dunia.
Bagi para pelatih, pemain, dan penggemar, tekanan ini luar biasa. Sebuah kesalahan kecil bisa berarti perpisahan dari mimpi terbesar mereka. Tapi di balik itu, ada cerita-cerita manusia — tentang kebangkitan, kesetiaan, dan harapan yang tak pernah padam.
Grup A: Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman – Antara Tradisi dan Transformasi
Grup A akan berlangsung di Qatar, negara kecil yang pernah menjadi pusat dunia sepak bola pada 2022. Kini, mereka kembali berusaha menembus Piala Dunia secara meritokratis, tanpa status tuan rumah.
Namun perjalanan mereka tidak mudah. Di bawah pelatih baru Julen Lopetegui, Qatar justru tampil kurang meyakinkan.
Tiga pertandingan, tanpa kemenangan. Kekalahan telak 1-4 dari Rusia bulan lalu masih menghantui. Tetapi Lopetegui percaya, timnya sedang berproses. “Kami sedang mencari kembali identitas kami,” ujarnya. “Dan Piala Dunia adalah tujuan yang membuat semua ini bermakna.”
Kapten legendaris Hassan Al Haydos dipanggil kembali dari pensiun, memberi sentuhan pengalaman bagi generasi baru yang dipimpin Akram Afif, sang jantung kreativitas Qatar. Di sisi lain, Uni Emirat Arab datang dengan energi baru.
Pelatih Cosmin Olaroiu, yang sudah lama malang-melintang di klub-klub UEA, kini dipercaya mengarsiteki tim nasional. Empat laga tanpa kekalahan di bawah asuhannya menjadi sinyal kebangkitan. Dari 31 pemain yang dipanggil, 15 di antaranya memiliki kurang dari 10 caps, dan tujuh merupakan pemain naturalisasi kelahiran Brasil. UEA sedang bereksperimen dengan wajah baru Asia: multikultural, dinamis, dan berani.
Sementara itu, Oman menaruh harapan pada sosok veteran: Carlos Queiroz, arsitek ulung asal Portugal yang pernah membawa Iran ke dua Piala Dunia.
Di tangannya, Oman mencoba menggabungkan semangat juang dengan disiplin taktik. Bulan lalu, mereka nyaris naik podium di CAFA Nations Cup sebelum kalah adu penalti dari India. “Kami bukan favorit,” kata Queiroz dengan tenang, “tapi kami punya hati.”
