Hukum di Tangan yang Salah
Kehadiran pemukim Yahudi di kompleks al-Aqsa bukan hal baru, namun skala dan intensitas tahun ini begitu mencolok. Kelompok “Temple Mount” menyerukan 3 Agustus sebagai hari terbesar untuk “menyerbu” al-Aqsa.
Dan untuk pertama kalinya, seruan itu didukung penuh oleh pemerintah — bukan hanya dengan diam, tetapi dengan kehadiran fisik dan pernyataan publik.
Sementara itu, kelompok ekstrem kanan seperti Ben-Gvir dan Amit Halevi terus menggiring opini bahwa al-Aqsa bisa dibagi, atau bahkan diambil alih sepenuhnya.
Usulan ini bagi banyak orang Palestina bukan cuma provokatif, tapi seperti menyaksikan sejarah mereka dihapus halaman demi halaman.
Jeritan dari Gaza dan Tepi Barat
Hamas merespons dengan kecaman keras, menyebut kejadian ini sebagai “kelanjutan dari agresi terhadap rakyat Palestina dan tempat suci mereka.” Dalam pernyataannya, mereka menambahkan:
“Apa yang dilakukan pemerintah ekstremis ini, mulai dari pembantaian di Gaza, kekerasan di Tepi Barat, hingga penodaan al-Aqsa, adalah bahan bakar konflik yang tak kunjung padam.”
Namun lebih dari sekadar pernyataan politik, luka sebenarnya terasa di hati para jemaah yang terpinggirkan — mereka yang hanya ingin berdoa dalam damai, di tanah mereka sendiri.
Masjid, yang Kini Tak Lagi Pasti
Masjid al-Aqsa, dahulu tempat yang menjadi simbol kerukunan, hari ini berubah menjadi simbol ketidakpastian. Ketika doa tak lagi bebas diucapkan dan tanah suci berubah jadi arena dominasi, maka yang terluka bukan hanya batu dan dinding, tapi juga hati dan martabat manusia.
Di tengah semua ini, yang paling mengganggu adalah diamnya dunia. Ketika 3.000 orang menyerbu tempat suci yang dijaga haknya oleh hukum internasional, hanya sedikit suara yang benar-benar bersuara.
Mungkin dunia sudah terlalu terbiasa melihat Palestina menangis. Tapi bagi mereka yang berdiri di luar gerbang al-Aqsa pagi itu, luka ini masih terasa baru, dan kesedihan itu nyata.
