SUMATERATODAY.COM- Nama Buya Arrazy Hasyim semakin dikenal luas sebagai salah satu ulama muda Indonesia yang memiliki kharisma kuat, wawasan keislaman mendalam, serta gaya dakwah yang menyejukkan.
Sosoknya kerap menjadi rujukan umat dalam memahami persoalan akidah, tasawuf, hingga kehidupan spiritual di tengah tantangan zaman modern.
Lahir pada 21 April 1986 di Koto Tangah, Payakumbuh, Sumatera Barat, Arrazy Hasyim tumbuh dalam tradisi religius masyarakat Minangkabau yang dikenal kuat menjaga nilai keislaman dan pendidikan.
Dengan latar belakang keilmuan yang kokoh, Buya Arrazy kini dikenal sebagai pendiri sekaligus pengasuh Ribath Nouraniyah Hasyimiyah, lembaga kajian Islam yang berpusat di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan.
Lembaga tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat yang ingin memperdalam ilmu-ilmu turats, akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, tasawuf, hingga amaliah zikir.
Buya Arrazy menempuh pendidikan dasar dan menengah di Sumatera Barat sebelum melanjutkan studi ke Jakarta.
Ia tercatat menimba ilmu hadis di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences, lalu menyelesaikan pendidikan sarjana di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada jurusan Akidah dan Filsafat Islam.
Tak berhenti di situ, ia melanjutkan studi magister hingga doktoral di kampus yang sama dan menyelesaikan pendidikan S3 pada tahun 2017.
Jejak akademik tersebut memperlihatkan kombinasi langka antara penguasaan ilmu klasik Islam dan pendekatan intelektual modern.
Di tengah era media sosial yang penuh perdebatan, Buya Arrazy hadir dengan pendekatan berbeda. Ceramahnya dikenal tenang, argumentatif, namun tetap mudah dipahami masyarakat luas.
Ia sering mengangkat tema tentang pentingnya adab, menjaga hati, memperkuat tauhid, serta merawat persatuan umat.
Gaya bicara yang santun, tenang, dan penuh wibawa membuat banyak jamaah menilai dirinya sebagai ulama kharismatik yang mampu menenangkan suasana.
Tidak sedikit generasi muda yang merasa dekat dengan penyampaiannya karena disampaikan dengan bahasa sederhana namun sarat makna.
Selain berdakwah, Buya Arrazy juga aktif di dunia pendidikan. Ia menjadi dosen pascasarjana di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta dan pernah mengajar di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Kombinasi antara akademisi dan pendakwah membuat pandangannya kerap dianggap seimbang antara teori dan praktik kehidupan nyata.
Aktivitas dakwah Buya Arrazy juga pernah menjangkau komunitas Muslim di luar negeri. Pada 2016 dan 2017, ia mengisi seminar keislaman di KBRI Paris, KJRI Marseille, serta komunitas Muslim di Prancis.
Hal ini menunjukkan kiprah dakwahnya diterima tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di lingkungan diaspora Indonesia.
Di tengah kebutuhan masyarakat akan tokoh agama yang mampu menyatukan, Buya Arrazy Hasyim hadir sebagai figur yang mengedepankan ilmu, akhlak, dan keteduhan.
Banyak jamaah mengenalnya bukan hanya sebagai penceramah, tetapi sebagai guru yang mengajak umat kembali pada nilai-nilai dasar Islam: kasih sayang, adab, dan kedamaian.
Dengan kharisma yang kuat dan kapasitas keilmuan yang matang, Buya Arrazy Hasyim terus menjadi salah satu ulama muda yang berpengaruh di Indonesia.






