Gus Miftah Mundur dari Jabatan Utusan Khusus Presiden, Tapi akan Terus Berdakwah

Gus Miftah Mundur dari Jabatan Utusan Khusus Presiden, Tapi akan Terus Berdakwah
Gus Miftah Mundur dari Jabatan Utusan Khusus Presiden, Tapi akan Terus Berdakwah

Ia berharap keputusan ini menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan terus berkomitmen pada jalan kebaikan.

“Kita semua manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Saya berjanji untuk terus belajar dan memperbaiki diri agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik,” tutupnya.

Keputusan pengunduran diri ini mencerminkan betapa pentingnya tanggung jawab seorang tokoh publik, terutama dalam menjaga kepercayaan masyarakat dan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.

Sosok Miftah Maulana Habiburrahman: Pendakwah Kaum Marjinal yang KontroversialMiftah Maulana Habiburrahman, atau yang lebih dikenal dengan Gus Miftah, lahir pada 5 Agustus 1981 di Adiluhur, Jabung, Lampung Timur.

Ia adalah seorang mubalig dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta. Gus Miftah dikenal luas sebagai pendakwah yang menyasar kaum marjinal, menjadikannya figur unik di kalangan ulama Indonesia.

Baca Juga :  Festival Pacu Jalur 2025 di Kuansing, Wapres Minta Tradisi dan Ekonomi Kreatif Terus Dikembangkan

Ia merupakan keturunan ke-9 dari Kiai Muhammad Ageng Besari, pendiri Pesantren Tegalsari di Ponorogo, sebuah pesantren bersejarah di Indonesia.

Ayahnya, M. Murodhi bin M. Boniran, juga berasal dari keluarga dengan tradisi keislaman yang kuat.

Pendidikan dan Karier Dakwah

Meski sempat menempuh pendidikan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Gus Miftah tidak menyelesaikan kuliah di sana.

Ia kemudian meraih gelar Sarjana Pendidikan dari Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang pada 2023.

Selama masa kuliahnya, ia aktif dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU).

Gus Miftah mulai berdakwah ke kaum marjinal sejak ia melaksanakan salat di musala sekitar Pasar Kembang, area lokalisasi di Yogyakarta.

Ia menyadari bahwa para pekerja dunia malam seringkali kesulitan mengakses kajian agama karena stigma masyarakat.

Ia pun memulai kegiatan dakwahnya di tempat-tempat seperti lokalisasi, kelab malam, dan salon plus-plus, menjadikan dirinya sebagai pendakwah yang dekat dengan komunitas yang kerap terpinggirkan.

Namanya mulai dikenal luas ketika video pengajiannya di sebuah kelab malam di Bali menjadi viral. Keberaniannya berdakwah di tempat-tempat yang tidak biasa membuatnya disegani sekaligus menuai kritik dari sebagian kalangan.

Jabatan Utusan Khusus Presiden

Pada 2023, Gus Miftah diangkat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan.

Dalam peran ini, ia bertugas membangun dialog antarumat beragama dan mengelola sarana keagamaan secara inklusif.

Namun, kiprahnya di jabatan tersebut tidak lepas dari kontroversi yang akhirnya memaksanya mengundurkan diri.

Kontroversi

Gus Miftah kerap menjadi sorotan karena gaya ceramahnya yang santai namun dianggap terlalu bebas. Salah satu insiden yang paling menyedot perhatian publik adalah saat ia berinteraksi dengan seorang pedagang es teh di Magelang pada acara tabligh akbar di Lapangan Drh. Soepardi, Magelang, pada 20 November 2024.

Dalam acara tersebut, Gus Miftah bercanda dengan pedagang tersebut, tetapi ucapannya dianggap menghina dan merendahkan martabat.

Ia mengatakan, “Es tehmu jik akeh ra? Masih? Ya kana didol, gblg!” (Es tehmu masih banyak? Masih? Ya dijual sana, bdh!). Perkataan ini memicu kemarahan publik, terutama setelah video interaksi tersebut menjadi viral di media sosial.

Setelah kejadian itu, Gus Miftah mendatangi rumah pedagang es teh tersebut untuk meminta maaf secara langsung.

Meski permintaan maaf diterima, desakan agar ia mundur dari jabatannya terus berdatangan. Pada 6 Desember 2024, Gus Miftah akhirnya menyatakan mundur dari tugasnya sebagai Utusan Khusus Presiden.

Pengunduran Diri

Dalam konferensi pers yang digelar di Pesantren Ora Aji, Gus Miftah menyampaikan keputusannya untuk mundur dengan penuh emosi.

Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil bukan karena desakan pihak luar, tetapi atas dasar tanggung jawab kepada Presiden Prabowo Subianto dan masyarakat Indonesia.

“Keputusan ini bukan akhir atau kemunduran, tetapi langkah awal untuk terus memberikan manfaat kepada negara,” katanya sambil menahan tangis.

Pengaruh dan Dukungan

Meski sering menuai kontroversi, Gus Miftah tetap mendapat dukungan dari berbagai pihak. Ia dihormati sebagai sosok yang berani keluar dari zona nyaman dengan membawa nilai-nilai agama ke komunitas yang sering dianggap tabu.

Pendekatannya yang humanis membuat banyak kalangan masyarakat merasa terinspirasi, termasuk para pekerja dunia malam yang selama ini jarang disentuh oleh dakwah konvensional.

Dukungan dari tokoh agama seperti KH. Luthfi bin Yahya dari Pekalongan juga menguatkan langkahnya untuk terus berdakwah meski diwarnai kritik.

Gus Miftah adalah figur yang kompleks, mencerminkan keberanian dan inovasi dalam dakwah tetapi juga menjadi pelajaran penting tentang batasan dalam komunikasi publik.

Keputusannya untuk mundur menunjukkan tanggung jawabnya terhadap amanah yang diemban sekaligus komitmen untuk terus berkontribusi dalam bentuk lain.

Sebagai pendakwah yang telah menorehkan jejak di tempat-tempat yang tidak biasa, Gus Miftah tetap menjadi salah satu sosok menarik dalam lanskap dakwah dan sosial keagamaan di Indonesia.