SINGAPURA, SUMATERATODAY.COM- Harga minyak mentah dunia kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis, 13 Agustus 2026. Penurunan terjadi setelah harga minyak sebelumnya mencatat penguatan dalam beberapa sesi perdagangan.
Pelaku pasar kini mulai lebih fokus pada prospek permintaan minyak global yang diperkirakan melemah. Di saat yang sama, ketidakpastian terkait kondisi Timur Tengah, khususnya belum adanya perkembangan pembukaan kembali Selat Hormuz, masih menjadi faktor yang menahan penurunan harga lebih dalam.
Pada perdagangan pukul 07.05 waktu Saudi, harga minyak mentah Brent turun 42 sen atau 0,47 persen menjadi US$88,56 per barel. Dengan asumsi kurs Rp17.876 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp1,58 juta per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 55 sen atau 0,66 persen menjadi US$82,72 per barel, atau sekitar Rp1,48 juta per barel jika dikonversikan ke rupiah.
Prospek Permintaan Jadi Sorotan
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah sejumlah indikator menunjukkan prospek permintaan global yang lebih lemah.
Salah satu perhatian utama pasar berasal dari Amerika Serikat. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah komersial AS melonjak 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus.
Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak Januari 2023. Angkanya juga berbanding terbalik dengan perkiraan analis Reuters yang sebelumnya memprediksi stok minyak AS justru turun sekitar 1,4 juta barel.
Lonjakan persediaan tersebut mengindikasikan tekanan dari sisi permintaan dan ekspor minyak Amerika Serikat.
OPEC Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Permintaan
Sentimen negatif terhadap pasar minyak semakin kuat setelah OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026 menjadi 580.000 barel per hari.
International Energy Agency (IEA) bahkan memperkirakan konsumsi minyak dunia pada tahun ini dapat mengalami kontraksi hingga 1,6 juta barel per hari.
Perubahan proyeksi tersebut membuat investor semakin berhati-hati. Jika konsumsi minyak global benar-benar melambat, tekanan terhadap harga komoditas energi tersebut berpotensi berlanjut.
Namun, pasar belum sepenuhnya terbebas dari risiko gangguan pasokan.
Selat Hormuz Masih Jadi Risiko Utama
Situasi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah harga minyak.
Hingga Kamis, belum terdapat perkembangan berarti terkait pembicaraan Amerika Serikat dan Iran. Seorang sumber senior Iran menyebut belum ada kemajuan dalam upaya menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang sebelumnya dibahas pada Juni.
Analis ING menilai hubungan Washington dan Teheran masih berada dalam kondisi buntu.
