Menjaga Toleransi Beragama di Era Digital: Kolaborasi Lintas Iman Demi Sumsel Zero Konflik

Literasi Digital dan Toleransi Beragama: Kolaborasi Tokoh Agama di Sumatera Selatan
Literasi Digital dan Toleransi Beragama: Kolaborasi Tokoh Agama di Sumatera Selatan

Peran FKUB dan Pemerintah dalam Menjaga Harmoni

K.H. K.H. Agok Syarifuddin berbagi pengalaman FKUB Sumsel dalam mengawal berbagai agenda lintas iman, mulai dari doa bersama untuk Pemilu Damai hingga pembangunan pusat pendidikan seperti Darul Qur’an.

Ia menekankan pentingnya membina generasi muda dengan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesehatan, sebagai wujud doa yang universal bagi seluruh umat.

“Kalau akhlak baik, toleransi akan terbangun. Di era digital ini, filter pertama tetap hati nurani. Kalau hati sempit, jari jadi senjata. Maka bukalah hati, seluas-luasnya,” pesannya.

Baca Juga :  Anies Pilih Argo Parahyangan ke Bandung, Lebih Nyaman dan Tempuh Tak Jauh Berbeda

Literasi Digital Agama di Sekolah

Saat ditanya apakah pendidikan literasi digital dan toleransi agama perlu dimasukkan ke kurikulum sekolah, para narasumber sepakat bahwa itu penting.

Menurut Pak Yamin, hal ini sebenarnya sudah dimulai sejak era pandemi COVID-19 melalui pembelajaran daring. Ia mendorong adanya kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan tokoh agama untuk mengembangkan materi pembelajaran yang memuat nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan berbasis digital.

Pesan untuk Generasi Muda

Generasi muda atau Gen Z adalah pengguna utama media sosial. Oleh karena itu, mereka memegang peran vital dalam menjaga perdamaian.

Baik umat Islam, Katolik, maupun Kristen sepakat bahwa anak-anak muda harus dilatih menjadi duta perdamaian dan toleransi.

Pak Alfonsus menyebutkan bahwa Gereja Katolik memiliki Komisi Kepemudaan yang fokus membina orang muda agar kritis, kreatif, dan bijak dalam bermedia sosial.

Sementara Pak Robert menekankan bahwa Sumpah Pemuda adalah dasar nasional untuk merajut persatuan.

“Jangan lupa, kita ini satu bangsa. Jangan karena beda kulit atau agama jadi musuh,” ujarnya.

K.H. Agok Syarifuddin menegaskan, “Daripada sibuk menyebar kebencian, lebih baik sibuk mengaji, belajar Al-Qur’an atau kitab suci masing-masing. Mari jadikan diri kita manusia yang bermanfaat bagi sesama.”

Podcast ini menjadi refleksi penting bahwa menjaga toleransi tidak hanya menjadi tanggung jawab tokoh agama atau pemerintah, tetapi semua elemen bangsa—terutama generasi muda yang hidup di era digital.

Dengan edukasi, kolaborasi, dan komitmen bersama, Sumatera Selatan bisa tetap menjadi provinsi yang dikenal dengan zero konflik, bahkan menjadi contoh nasional dalam membangun harmoni dan perdamaian antarumat beragama.