Mini Cooper SE JCW: Saat Ikon Legendaris Harus Berdamai dengan Era Mobil Listrik

Mini Cooper SE JCW Terbaru, Masih Fun atau Sudah Kehilangan Jiwa Aslinya?
Mini Cooper SE JCW Terbaru, Masih Fun atau Sudah Kehilangan Jiwa Aslinya?

SUMATERATODAY.COM– Mini Coper bukan sekadar nama mobil. Bagi sebagian penggemarnya, Mini Cooper adalah “benda hidup” yang menempel pada memori tentang gaya, tentang kebebasan, tentang sebuah mobil kecil yang berani tampil beda ketika dunia otomotif cenderung seragam.

Dan itulah beban sekaligus keistimewaannya: setiap kali Mini lahir kembali, tidak hanya diuji sebagai produk baru, tapi juga sebagai kelanjutan dari legenda yang sudah berjalan lebih dari 60 tahun.

Di tengah era elektrifikasi yang makin cepat, mobil merek Inggris ikonik yang dimiliki perusahaan otomotif Jerman ini menghadapi pertanyaan paling sensitif.
Bisakah sebuah ikon yang terkenal dengan rasa berkendara “go-kart” tetap terasa Mini ketika ia menjadi mobil listrik?

Jawaban itu coba disampaikan lewat Mini Cooper SE generasi terbaru berkode J01, khususnya versi paling bertenaga yang dibalut paket John Cooper Works (JCW) sebuah paket yang sejak dulu identik dengan aura sporty dan “nakal” khas Mini.

Secara data, Mini Cooper SE JCW ini bukan main-main. Motor penggerak roda depan menghasilkan 160 kW (218 hp) dan torsi 330 Nm.

Tenaganya Mini Cooper ini sangat besar untuk ukuran hatchback kompak, apalagi dengan karakter EV yang responsnya instan. Kapasitas baterainya 54,2 kWh (usable 49,2 kWh), dengan klaim jarak tempuh 402 km WLTP.

Di atas kertas, ini adalah Mini listrik yang jauh lebih “siap pakai” dibanding generasi sebelumnya yang sering dikritik karena jarak tempuhnya pendek.

 

Tapi Mini bukan mobil yang dibeli hanya karena angka. Orang membeli Mini karena rasadan rasa itu dimulai bahkan sebelum pintu dibuka.

Dari luar, generasi baru ini adalah Mini yang paling berani. Siluet dasarnya masih Mini: overhang pendek, wheelbase terasa “penuh”, proporsi ringkas.

Baca Juga :  Enam Dubes Negara Sahabat Ingin Majukan Kerja Sama dengan Indonesia

Namun desainnya kini punya lebih banyak sudut dan garis tegas. Buat penggemar lama, perubahan ini bisa jadi “sakit hati” kecil karena oval dan lengkung adalah bahasa visual Mini sejak dulu. Tapi dunia desain otomotif sedang bergerak ke arah yang lebih tajam, dan Mini jelas ikut masuk arus itu.

Paket Mini Cooper JCW membuat tampilannya lebih garang: bumper depan lebih agresif, detail ventilasi lebih “sporty” (meski beberapa elemen cenderung kosmetik), dan ada spoiler belakang dengan identitas JCW yang seolah memberi pesan: mobil ini tidak mau sekadar jadi aksesori gaya.

Ukuran roda 18 inci dengan desain khas juga memperkuat kesan itu. Namun ada satu hal yang cukup mengganggu pada Mini Cooper JCW dalam konteks “premium”: ban bawaan pabrik disebut menggunakan Maxxis, yang terasa tidak sepadan dengan harga dan positioning Mini.

Ini bukan sekadar soal gengsi ban adalah titik kontak mobil dengan aspal. Kalau ban tidak mendukung, karakter mobil ikut turun.

Begitu masuk kabin, Mini kembali menunjukkan kekuatannya: suasana. Interiornya seperti ruang kecil yang sengaja dibuat untuk membangkitkan mood. Warna, tekstur, dan pencahayaan ambient terasa “hidup”.

Bahkan, Mini membuat pencahayaan dan pola-pola interior ikut berubah sesuai mode berkendara seolah mobil ini punya emosi yang bisa diajak main. Di sinilah Mini menang besar dibanding banyak kompetitor: ia tidak hanya menawarkan fitur, tapi pengalaman.