“Dan sekarang sedang dinantikan kiprahnya adalah melahirkan peradaban dunia. Maka karakter-karakter yang mendunia harus terus digali dan diperkokoh. Sifat-sifat membebek, grudak-gruduk, latah, segera kita enyahkan,” ujar kiai kelahiran Surabaya, Jawa Timur itu. Selain mendorong Nahdliyin untuk berpikir global, dalam pidatonya, ia juga menyampaikan beberapa hal terkait NU. Seperti menjelaskan empat prinsip NU berupa grand idea, grand design, grand strategy, dan grand control.
Ia juga menegaskan kembali sistem komando NU yang disimbolkan dengan tongkat Nabi Musa, dengan mengutip kisah Syaikhona Kholil saat memberikan tongkat dan surat Toha ayat 17-23 kepada KH Hasyim Asy’ari menjelang berdirinya NU.
Selain itu, Kiai Miftach juga mengajak segenap Nahdliyin agar memiliki prinsip yang kokoh serta mandiri agar NU tetap ajeg dan tidak mudah diganggu oleh kelompok-kelompok lain yang berlainan ideologi. Tak lupa pula, di awal pidato Kiai Miftach mengirimkan fatihah untuk para ulama Nahdliyin seperti Syekh Nawawi al Bantani, Syaikhona Kholil bin Abdil Lathif, KH Hasyim Asy’ari, kH Abdul Wahhab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri, KH Ramli Tamim, dan semua Pengurus PBNU yang sudah mendahului. (nuonline)






