Harga Minyak Dunia Turun! Brent dan WTI Tertekan, Ini Nilainya Jika Dikonversi ke Rupiah

Harga Minyak Dunia Turun Lagi, Ini Penyebab Brent dan WTI Melemah
Harga Minyak Dunia Turun Lagi, Ini Penyebab Brent dan WTI Melemah

Kondisi tersebut membuat pasar tetap memperhitungkan risiko gangguan terhadap pasokan minyak dunia, terutama apabila situasi keamanan di kawasan Teluk semakin memburuk.

Selat Hormuz menjadi perhatian karena merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan minyak global.

Baca Juga :  Harga Emas Hari Ini, Stabil Potensi Penguatan Jangka Menengah
Baca Juga :  Nokia Pamit dari Dunia Smartphone, Era Baru Tanpa Sang Legenda

Serangan Drone Rusia Belum Ganggu Infrastruktur Minyak

Faktor geopolitik lainnya datang dari Rusia. Serangan drone terbaru terhadap pelabuhan Novorossiysk dilaporkan tidak menyebabkan kerusakan pada infrastruktur minyak.

Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada informasi mengenai kerusakan terhadap terminal minyak di wilayah tersebut.

Kondisi ini membuat pasar relatif lebih tenang dari sisi risiko gangguan pasokan Rusia.

Harga Minyak Dunia dalam Rupiah

Jika menggunakan asumsi kurs Rp17.876 per US$1, berikut gambaran harga minyak dunia dalam mata uang rupiah:

  • Brent US$88,56 per barelRp1.583.099 per barel
  • WTI US$82,72 per barelRp1.478.703 per barel

Namun, angka tersebut merupakan hasil konversi nilai dolar ke rupiah, bukan harga jual minyak mentah di pasar Indonesia.

Harga minyak yang diterima konsumen Indonesia dapat berbeda karena dipengaruhi kualitas minyak, biaya pengangkutan, pengolahan, pajak, nilai tukar, serta kebijakan pemerintah.

Harga Minyak Berpotensi Tetap Fluktuatif

Pasar minyak saat ini berada di antara dua tekanan utama.

Di satu sisi, prospek permintaan yang melemah, kenaikan stok minyak AS, serta revisi proyeksi OPEC dan IEA memberikan tekanan terhadap harga.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian mengenai Selat Hormuz masih menjadi faktor yang dapat mendorong harga kembali naik.

Situasi tersebut membuat investor terus mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, kondisi pelayaran di kawasan Teluk, data persediaan minyak AS, serta kebijakan produksi negara-negara anggota OPEC.

Dengan kombinasi faktor tersebut, harga Brent dan WTI diperkirakan masih berpotensi bergerak volatil dalam perdagangan berikutnya.