Profil Mbah Ma’roef, Pendiri Pondok Pesantren Kedunglo dan Tokoh yang Banyak Diziarahi

Siapa KH. Mohammad Ma'roef? Perjalanan Ulama Kedunglo yang Melahirkan Generasi Penerus Sholawat Wahidiyah

SUMATERATODAY.COM- Nama KH Mohammad Ma’roef RA atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Ma’roef Kedunglo hingga kini tetap dikenang sebagai salah satu ulama kharismatik Nusantara.

Pendiri Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jawa Timur, itu tidak hanya dikenal karena keluasan ilmunya, tetapi juga perjalanan spiritualnya yang penuh perjuangan, tirakat, dan pengabdian kepada Allah SWT.

Kisah hidup Mbah Ma’roef menjadi inspirasi banyak kalangan. Ribuan peziarah masih rutin mendatangi makamnya di kompleks Pesantren Kedunglo, sementara ajaran serta keteladanannya terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari lingkungan pesantren inilah kemudian lahir Sholawat Wahidiyah, yang disusun oleh putranya, KH Abdoel Madjid Ma’roef, sebagai bentuk perjuangan membangkitkan kesadaran umat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Baca Juga :  Nol Persen Kasus Covid-19 di Muktamar Ke-34 NU
Baca Juga :  Oppo Reno15 Pro Mini Bocor, Usung Kamera 200 MP dan Dimensity 8450, Meluncur Akhir Tahun?

Masa Muda Penuh Ujian

Sejak kecil, kehidupan Mbah Ma’roef jauh dari kemewahan. Berasal dari keluarga sederhana yang sangat menjunjung tinggi pendidikan agama, beliau tumbuh dengan semangat mencari ilmu meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.

Dalam perjalanan hidupnya, Mbah Ma’roef pernah mengalami perlakuan keras dari keluarganya. Namun, ujian tersebut tidak membuatnya putus asa. Justru pengalaman itu menjadi titik balik yang menguatkan tekadnya untuk meninggalkan kampung halaman dan berjalan kaki menuju Pondok Pesantren Cepoko di Nganjuk demi menuntut ilmu agama.

Perjalanan panjang tanpa fasilitas itu ditempuh dengan penuh kesabaran. Baginya, ilmu agama merupakan bekal kehidupan yang jauh lebih berharga dibandingkan kenyamanan dunia.

Bertahan Hidup di Tengah Kemiskinan

Saat menimba ilmu di Pesantren Cepoko, kehidupan Mbah Ma’roef semakin berat. Keterbatasan ekonomi membuatnya harus bertahan dengan makanan seadanya.

Dalam beberapa riwayat disebutkan, beliau hanya memperoleh makanan layak sekali dalam sepekan dari masyarakat sekitar pesantren. Pada hari-hari lainnya, beliau mengganjal lapar dengan nasi kerak yang menempel di dasar panci atau buah pace (mengkudu) yang ditanam sendiri di sekitar pesantren.

Bahkan, demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya belajar, beliau bersama saudaranya pernah berkeliling kampung meminta bantuan kepada masyarakat. Sesekali beliau juga bekerja sebagai pemanjat pohon kelapa dengan upah yang sangat sederhana.

Seluruh kesulitan itu diterima dengan penuh keikhlasan tanpa sedikit pun mengurangi semangatnya menuntut ilmu.

Tirakat yang Mengundang Kekaguman

Di tengah kondisi serba kekurangan, Mbah Ma’roef menjalani berbagai bentuk tirakat sebagai ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Salah satu kisah yang paling banyak diceritakan adalah kebiasaan beliau menahan rasa lapar dalam waktu yang sangat panjang. Dalam berbagai penuturan sejarah, Mbah Ma’roef dikenal memiliki tekad luar biasa untuk mengendalikan hawa nafsunya. Beliau memperbanyak puasa sunnah, memperbanyak doa, zikir, serta munajat kepada Allah SWT.

Seluruh tirakat itu dilakukan bukan untuk mencari kemasyhuran, melainkan sebagai jalan membersihkan hati agar lebih mudah menerima ilmu dan petunjuk dari Allah SWT.

Mimpi yang Mengubah Kehidupan

Perjalanan spiritual Mbah Ma’roef mencapai titik penting ketika beliau mengalami sebuah mimpi yang sangat membekas.