KEDIRI, SUMATERATODAY.COM- Nama KH Mohammad Ma’roef RA atau yang lebih akrab disapa Mbah Ma’roef menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan dakwah Islam di Indonesia, khususnya di Kediri, Jawa Timur.
Sosok ulama kharismatik ini dikenal luas sebagai pendiri Pondok Pesantren Kedunglo sekaligus seorang ahli doa yang oleh banyak kalangan dijuluki “Profesor Doa”.
Hingga kini, nama Mbah Ma’roef tetap dikenang. Ribuan jamaah dari berbagai daerah rutin berziarah ke makam beliau yang berada di kompleks Pondok Pesantren Kedunglo, tepat di sebelah barat Masjid Kedunglo.
Selain itu, setiap penyelenggaraan Haul KH Mohammad Ma’roef dan Mujahadah Kubro Sholawat Wahidiyah selalu dihadiri ribuan jamaah dari berbagai kota di Indonesia bahkan luar negeri.
Lahir dari Keluarga Ulama Sederhana
KH Mohammad Ma’roef lahir pada tahun 1852 di Dusun Klampok Arum, Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Beliau merupakan putra dari KH Yahi Abdul Madjid, seorang ulama sekaligus pendiri pondok pesantren di daerah tersebut.
Sejak kecil, kehidupan Mbah Ma’roef jauh dari kemewahan. Ia tumbuh dalam keluarga yang sederhana dan harus menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi. Bahkan, karena kondisi keluarga, ia tidak sempat menikmati pendidikan formal sebagaimana anak-anak lainnya.
Meski demikian, semangat menuntut ilmu tidak pernah padam. Ia belajar membaca Al-Qur’an kepada kakak-kakaknya dan terus berusaha mendalami ilmu agama meskipun awalnya mengalami kesulitan.
Perjalanan Spiritual yang Mengubah Hidup
Dalam berbagai riwayat, diceritakan bahwa Mbah Ma’roef menjalankan puasa Senin-Kamis atas saran keluarganya. Setelah itu beliau mengalami mimpi yang sangat berkesan, yakni seekor ikan mas melompat masuk ke dalam mulutnya.
Sejak peristiwa tersebut, kemampuan beliau dalam membaca Al-Qur’an berkembang pesat. Ia mampu membaca dengan lancar hingga khatam dan semakin mudah memahami berbagai disiplin ilmu agama.
Perjalanan mencari ilmu kemudian membawanya belajar ke sejumlah pesantren, di antaranya Pondok Cepoko di Nganjuk, kemudian melanjutkan pendidikan kepada sejumlah ulama besar di Semarang, Tuban, hingga Bangkalan, Madura.
Pernah Mengalami Kelaparan Demi Menuntut Ilmu
Masa-masa menimba ilmu tidak selalu berjalan mudah. Ketika mondok di Pondok Cepoko, Mbah Ma’roef hidup dalam keterbatasan yang sangat berat.
Makanan hanya datang beberapa hari sekali dari masyarakat sekitar. Bahkan beliau pernah bertahan hidup dengan nasi kerak yang menempel di dasar panci maupun buah pace yang ditanam sendiri. Dalam kondisi tertentu, beliau bersama kakaknya juga pernah meminta bantuan kepada masyarakat demi memenuhi kebutuhan hidup.
Kesulitan tersebut justru menempa keteguhan hati beliau dalam menuntut ilmu agama.
Menjadi Guru Para Ulama
Kesungguhan belajar akhirnya membuahkan hasil. Mbah Ma’roef dikenal memiliki pemahaman mendalam terhadap kitab-kitab klasik dan ilmu fikih. Kemampuannya membuat beliau dipercaya mengajar para santri, bahkan beberapa gurunya sendiri kemudian berguru kepadanya.
Nama KH Mohammad Ma’roef semakin dikenal luas sebagai ulama yang memiliki keluasan ilmu sekaligus kedalaman spiritual.






