Para guru mengevaluasi dalam konteks nyata. Langkah ini melengkapi model uji publik yang biasanya didominasi oleh akademisi dan pengamat yang hanya melihat dokumen kurikulum saja. “Bagaimana hasil evaluasinya? Detilnya sedang diolah oleh tim, tapi secara keseluruhan sangat positif!,” katanya.
Namun ia kembali menegaskan bahwa kurikulum baru ini merupakan tawaran atau opsi atau tidak harus digunakan pada 2022 di sekolah. Kurikulum ini tidak dipaksakan secara masal untuk mengganti kurikulum lama.
“Paradigma merdeka belajar, sekolah perlu diberi keleluasaan termasuk dalam memilih kurikulum yang paling relevan, paling cocok bagi kebutuhan dan konteks sekolah masing-masing,” katanya. (nu.online)






