Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda peninjauan wilayah terdampak pascaerupsi sekaligus evaluasi penanganan darurat.
Dalam pertemuan itu, Kepala BNPB menekankan pentingnya relokasi ke wilayah yang benar-benar aman dari potensi erupsi dan awan panas guguran, guna melindungi keselamatan warga di masa mendatang.
Pertimbangan Relokasi: Keselamatan dan Akses Mata Pencaharian
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Lumajang mengusulkan relokasi ke Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro. Lokasi ini dianggap aman, terbukti dari hunian tetap (huntap) yang telah dibangun pascaerupsi Semeru pada 2021.
Namun sebagian warga Dusun Sumbersari menolak usulan tersebut karena lokasi relokasi dinilai terlalu jauh dari lahan pertanian dan sumber mata pencaharian mereka.
Merespons hal tersebut, Kepala BNPB meminta agar pemerintah daerah melakukan pendataan ulang, termasuk status rumah rusak berat dan jumlah warga terdampak.
Ia menilai, dialog dan musyawarah dengan warga menjadi faktor penting untuk memastikan relokasi dapat diterima dan dijalankan secara efektif.
“Arahan saya, untuk relokasi coba data lagi Pak Kalak dan Bu Bupati. Kalau rumahnya benar-benar hilang, sampaikan. Kita cari opsi tanah relokasi meskipun jauh, tapi harus terbukti aman. Ini yang harus diprioritaskan pemerintah pusat dan daerah,” tegas Suharyanto.
Selain itu, ia membuka opsi agar warga mengajukan lahan alternatif milik kerabat atau keluarga yang memenuhi standar keamanan dan layak huni.
“Coba dihitung lagi, kalau memang tidak bisa ke relokasi yang lama, boleh usulkan lokasi baru, tapi pastikan aman dan bisa menampung 221 warga terdampak di Dusun Sumbersari,” tambahnya.
Perpanjangan Tanggap Darurat dan Dukungan Logistik
BNPB juga menyetujui perpanjangan masa tanggap darurat selama tujuh hari ke depan, guna memastikan koordinasi dan pendistribusian bantuan berjalan secara optimal.
Saat ini tercatat warga belum mengungsi secara permanen, namun jumlah penghuni pos pengungsian bersifat fluktuatif.
“Tanggap darurat masih berjalan dan masyarakat tidak ada yang mengungsi permanen. Kalau malam banyak di pengungsian, siang mereka ke rumah masing-masing untuk bersih-bersih,” jelas Suharyanto saat meninjau pos pengungsian SMPN 2 Pronojiwo yang menampung 159 warga.
BNPB memastikan bantuan logistik, kebutuhan dasar, dan layanan kesehatan terus disalurkan selama masa tanggap darurat. Selain kebutuhan fisik, Kepala BNPB juga menekankan pentingnya dukungan psikososial bagi warga yang terdampak langsung.
Penguatan Sistem Peringatan Dini dan Mitigasi
Untuk memperkuat upaya mitigasi dan kesiapsiagaan, Kepala BNPB meminta agar Pemerintah Kabupaten Lumajang segera memperbaiki dan memperbarui perangkat Early Warning System (EWS) dan kamera pemantau (CCTV) yang rusak akibat erupsi.
“Kalau EWS dan CCTV lama sudah rusak dan tidak update, buat sistem yang lebih aman agar ketika ada guguran awan panas bisa diketahui lebih cepat,” ujarnya.
Suharyanto juga mendorong pemerintah daerah untuk memanfaatkan fase pascabencana dengan mengusulkan program Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) ke pemerintah pusat. Program tersebut mencakup pembangunan hunian tetap, peningkatan infrastruktur, dan pendirian pos pengungsian terpusat yang multifungsi.
“Pos pengungsian terpusat jangan hanya seperti hanggar atau gudang. Harus dirancang sebagai gedung serbaguna. Saat tidak ada bencana bisa dipakai sebagai sekolah, tempat pertemuan, atau pusat kegiatan masyarakat,” harapnya.
BNPB memastikan akan terus berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terkait infrastruktur hunian serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk pembangunan sekolah yang rusak berat akibat erupsi.
Harapan untuk Warga
Dalam dialog langsung dengan warga pengungsi di SMPN 2 Pronojiwo, Kepala BNPB tidak hanya menyampaikan dukungan moral tetapi juga meminta warga terlibat aktif dan kooperatif dalam proses penentuan lokasi relokasi. “Yang kita prioritaskan adalah keselamatan bersama. Lokasi mungkin jauh, tapi harus aman dan layak untuk masa depan anak-anak kita,” tutupnya.
Upaya relokasi ini diharapkan menjadi langkah penting menuju kehidupan yang lebih aman, berkelanjutan, dan tahan bencana bagi masyarakat terdampak erupsi Gunung Semeru di Dusun Sumbersari.





