RELIGI  

Ribuan Pemukim Israel Masuki Halaman Suci Al Aqsa, Luka Batin Warga Palestina Kian Dalam

3.000 pemukim Israel datang dalam gelombang-gelombang terorganisir, dipimpin langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.
3.000 pemukim Israel datang dalam gelombang-gelombang terorganisir, dipimpin langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir.

SUMATERATODAY.COM- Al-Quds, 4 Agustus 2025  Pagi itu, udara di sekitar Masjid al-Aqsa seharusnya membawa ketenangan. Para jemaah biasanya sudah bersiap menunaikan salat atau sekadar duduk bersila dalam sunyi, memanjatkan doa. Namun kali ini, halaman suci itu berubah menjadi panggung ketegangan.

Lebih dari 3.000 pemukim Israel datang dalam gelombang-gelombang terorganisir, dipimpin langsung oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Mereka tidak datang untuk bersilaturahmi, apalagi mencari damai.

Mereka datang dengan nyanyian keras, tarian provokatif, dan ritual yang oleh umat Muslim dianggap sebagai penistaan terhadap tempat paling sakral ketiga dalam Islam.

“Hari Berkabung” yang Berubah Menjadi Pawai Kuasa

Aksi itu diklaim sebagai bagian dari peringatan “kehancuran kuil” — sebuah narasi historis yang sejak lama dipolitisasi oleh kelompok ultranasionalis. Namun bagi warga Palestina, yang menyaksikan rumah-rumah mereka diawasi dan jalanan dijaga tentara bersenjata, pawai itu adalah isyarat kuasa yang menusuk hati.

Ben-Gvir, dalam video yang ia unggah di media sosial, berkata tegas:

“Dari sini, kita kirim pesan. Kita harus kuasai seluruh Gaza, hancurkan Hamas, dan dorong migrasi warga Palestina.”

Pernyataan itu tak hanya menebar rasa takut, tapi juga mengirim pesan bahwa proyek penghapusan perlahan terhadap eksistensi Palestina terus berjalan. Bahkan di tempat suci mereka.

Gerbang Ditutup, Sujud Dilarang

Ketika para pemukim masuk, warga Palestina justru dicegah mendekat. Polisi Israel melarang akses ke Masjid al-Aqsa dan menutup gerbang-gerbang Kota Tua.

Beberapa warga tua yang hendak menunaikan salat dhuha tertahan di luar. Ada yang hanya bisa memandangi halaman suci dari kejauhan, dengan mata yang memerah—bukan karena marah, tapi karena sedih.

Bagi mereka, al-Aqsa bukan hanya tempat ibadah. Ia adalah rumah spiritual, tempat di mana banyak dari mereka dibesarkan. Kini, rumah itu perlahan-lahan terasa direnggut, hari demi hari, dengan dalih hukum dan keamanan.

Suara yang Terluka, Dunia yang Terlalu Biasa

Seorang remaja perempuan Palestina, Fatima, berdiri tak jauh dari pintu gerbang. Ia mengatakan pelan, “Kami tidak diminta untuk melawan. Kami hanya ingin tetap bisa salat di tanah kami.” Matanya berkaca-kaca, namun suaranya tegas.

Di balik semua retorika politik, ada kisah-kisah kecil yang sering dilupakan: ibu-ibu yang tak bisa membawa anak-anaknya salat Jumat, lansia yang dicegah masuk ke masjid meskipun telah datang sejak subuh, anak-anak yang menangis karena harus melihat tentara di halaman tempat mereka biasa bermain.

Baca Juga :  Menag Nasaruddin Umar Doakan Kesembuhan Paus Fransiskus, Ajak Perkuat Kurikulum Cinta