SUMATERATODAY.COM- Gaza, Tiga warga sipil Palestina, termasuk seorang remaja, dilaporkan tewas dalam sepekan terakhir di Jalur Gaza.
Dua dari korban diduga ditembak pasukan Israel saat mencari bantuan makanan, sementara satu lainnya meninggal akibat malnutrisi akut.
Insiden-insiden ini menambah daftar panjang kematian warga sipil yang terus meningkat sejak dimulainya operasi militer Israel di wilayah tersebut.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza pada 24 Juli, dua kematian baru dikonfirmasi sebagai akibat dari kelaparan dan malnutrisi.
Dikutip dari BBC, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa lebih dari 10% warga Gaza kini mengalami malnutrisi akut, di tengah blokade dan keterbatasan bantuan kemanusiaan yang masuk.
Abdullah Jendeia, 19 Tahun: Tewas Saat Cari Makanan
Abdullah Omar Jendeia (19), seorang remaja asal al-Sabra, Gaza tengah, dilaporkan tewas pada 20 Juli saat hendak mengambil bantuan makanan di Koridor Netzarim, zona militer yang membagi Gaza bagian utara dan selatan.
Menurut keluarganya, Abdullah pergi bersama saudara dan iparnya dengan berjalan kaki sejauh lebih dari lima kilometer untuk mendapatkan tepung dari jalur distribusi truk bantuan mingguan.
Saudaranya, Mahmoud, mengabari bahwa sekitar pukul 23.00 malam, pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah warga yang sedang mengantri.
Abdullah tewas di tempat, sementara Mahmoud dan seorang saudara lainnya terluka. “Dia orang yang ceria dan sangat baik hati,” kata Nadreen, saudari perempuan Abdullah.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengakui bahwa pasukannya melepaskan “tembakan peringatan” di lokasi tersebut, namun membantah telah menyebabkan kematian warga. Mereka menyatakan bahwa operasi dilakukan untuk “menghilangkan ancaman langsung.”
Namun, Badan Pertahanan Sipil Gaza menyatakan bahwa pada hari yang sama, 93 orang tewas dan puluhan lainnya terluka di seluruh Gaza, sebagian besar di dekat lokasi distribusi bantuan.
Ahmed Alhasant, 41 Tahun: Meninggal karena Malnutrisi
Ahmed Alhasant, warga Deir al-Balah di Gaza tengah, meninggal pada 22 Juli setelah menderita malnutrisi parah selama berbulan-bulan.
Menurut saudaranya, Yehia Alhasant, Ahmed mengalami penurunan berat badan drastis dari 80 kg menjadi hanya 35 kg.
Ahmed, yang menderita diabetes, tidak mendapatkan cukup makanan sejak Maret lalu, ketika blokade bantuan diberlakukan.
“Kami hanya punya potongan roti dan makanan kaleng seadanya,” ujar Yehia. Di rumah sakit, keluarga diberi tahu bahwa Ahmed tidak memerlukan obat, tetapi makanan bergizi yang tidak tersedia.
Ahmed dikenal sebagai teknisi parabola dan penggemar sepak bola. “Dia orang yang kuat, salah satu yang paling baik yang saya kenal,” tambah Yehia.






