SUMATERATODAY.COM– Setelah melewati masa pemulihan cedera yang luar biasa cepat, penyerang andalan tim nasional Indonesia, Ole Romeny, siap kembali memperkuat Garuda dalam dua laga penting kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Arab Saudi dan Irak di Jeddah.
Pemain berdarah Belanda–Indonesia itu mengaku bahwa kesempatan untuk membawa Indonesia kembali ke panggung tertinggi sepak bola dunia akan menjadi momen yang “lebih besar dari sekadar besar”.
Pada awal Juli lalu, klub Romeny di Inggris, Oxford United, melakukan tur ke Indonesia dalam sebuah turnamen undangan yang digelar di tanah air para pemilik klub tersebut. Bersama rekannya sesama pemain Garuda, Marselino Ferdinan, kehadiran Romeny sempat mencuri perhatian publik Indonesia.
Namun, dalam laga melawan Arema FC di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, insiden tak terduga terjadi. Setelah sempat mencetak gol untuk menggandakan keunggulan Oxford, Romeny harus meninggalkan lapangan akibat tekel keras di sisi kanan lapangan — momen yang membuat publik Indonesia menahan napas.
Diagnosis awal menyebutkan ia akan absen hingga akhir tahun akibat patah pergelangan kaki, yang berarti melewatkan dua laga penting Indonesia di babak keempat kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Namun, tekad dan disiplin tinggi, termasuk keputusan ekstrem menghentikan konsumsi gula sepenuhnya, membuat pemulihan Romeny berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan.
Kini, striker berusia 25 tahun itu telah masuk dalam skuat Patrick Kluivert yang berisi 29 pemain untuk laga penting di Jeddah pada 11 dan 14 Oktober mendatang.
“Saya Bermain untuk Indonesia — dan untuk Nenek Saya”
Dalam wawancara eksklusif bersama FIFA, Romeny menuturkan betapa besar kebanggaannya mengenakan seragam Merah Putih.
“Saya merasa sangat bangga dan terhormat memakai jersey ini. Tugas saya adalah penting bagi tim — mencetak gol, membantu menang, dan menunjukkan kualitas saya,” ujar Romeny.
“Saya bisa menahan bola, bermain dengan kaki, dan mencetak gol. Itulah hal terpenting yang ingin terus saya lakukan untuk tim.”
Romeny, yang sebelumnya memperkuat NEC Nijmegen, FC Emmen, dan FC Utrecht, memiliki ikatan darah Indonesia dari neneknya yang berasal dari Medan.
“Nenek saya tumbuh di Medan hingga usia 30 tahun. Ia kembali ke Belanda, tapi selalu merasa rumahnya ada di Indonesia. Ia menularkan budaya dan bahasa Indonesia kepada ibu saya. Jika nenek masih hidup, saya yakin dia akan sangat bangga melihat saya sekarang,” tutur Romeny dengan haru.
Ia juga menyanjung dukungan luar biasa para pendukung Garuda:
“Fans Indonesia luar biasa — mungkin hanya bisa disamai oleh Brasil. Suara mereka di stadion benar-benar gila. Dukungan itu membuat kami ingin berjuang lebih keras untuk mereka.”
Kepercayaan Diri di Bawah Patrick Kluivert
Bekerja di bawah pelatih legendaris Belanda, Patrick Kluivert, memberikan dampak positif besar bagi Romeny. Ia menyebut Kluivert sebagai sosok yang memahami manusia sebelum pemain.
“Patrick benar-benar tahu bagaimana memperlakukan pemain. Ia memberi saya kebebasan dan kepercayaan diri. Tidak semua pelatih seperti itu. Dia memahami saya secara pribadi, dan saya sangat menghargainya,” ujar Romeny.
Kluivert kini memimpin Indonesia menghadapi dua pertandingan penentuan melawan Arab Saudi dan Irak. Hanya juara grup yang akan lolos langsung ke Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, sementara posisi kedua akan melanjutkan perjuangan ke babak kelima pada November mendatang.






