Begini Cara Terapi Kurma: Pangan Tradisional yang Bernilai bagi Kesehatan

Manusia mengenal kurma sejak 50 ribu tahun lalu. Di dunia, ada sekitar 90 juta pohon kurma dan lebih dari 600 varietas kurma. Di Alquran, kurma dijumpai dalam 21 ayat.
Manusia mengenal kurma sejak 50 ribu tahun lalu. Di dunia, ada sekitar 90 juta pohon kurma dan lebih dari 600 varietas kurma. Di Alquran, kurma dijumpai dalam 21 ayat.

SUMATERATODAY.COM- Kurma merupakan salah satu buah tertua yang dikenal manusia dan telah lama menjadi bagian penting dari tradisi pangan di berbagai wilayah, terutama di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Buah yang secara ilmiah bernama Phoenix dactylifera ini bukan sekadar makanan manis, melainkan juga sumber energi, serat, mineral, dan senyawa antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh. Karena kandungannya itu, kurma kerap disebut sebagai pangan fungsional yang bisa mendukung kesehatan bila dikonsumsi dengan cara yang tepat.

Dari sisi gizi, dikutip dari laman Kemenkes,  kurma dikenal sebagai makanan padat energi. Kandungan utamanya adalah karbohidrat alami, terutama glukosa dan fruktosa, yang membuat buah ini cepat memberikan tenaga.

Karena itulah kurma sering dipilih sebagai makanan pembuka saat berbuka puasa atau ketika tubuh memerlukan asupan energi yang cepat. Meski manis, kurma tetap memiliki kelebihan dibanding gula biasa karena di dalamnya terdapat serat yang membantu memperlambat penyerapan gula, sekaligus memberi rasa kenyang lebih lama.

Selain itu, kurma juga mengandung berbagai mineral penting seperti kalium, magnesium, kalsium, dan fosfor. Kalium dan magnesium berperan dalam menjaga fungsi otot, saraf, dan kestabilan denyut jantung.

Kandungan seratnya pun bermanfaat untuk mendukung kesehatan saluran cerna, terutama membantu mengatasi sembelit dan menjaga keteraturan buang air besar. Kurma juga menyimpan polifenol dan senyawa antioksidan yang membantu tubuh melawan stres oksidatif dan peradangan.

Baca Juga :  Bangun 26 Masjid Al-Hikmah di JTTS, Hutama Karya Seimbangkan Iman dan Kinerja

Meski demikian, manfaat kurma perlu dipahami secara proporsional. Kurma bukanlah obat tunggal untuk menyembuhkan segala penyakit. Ia lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari pola makan sehat. Dalam konteks diabetes, misalnya, kurma tidak otomatis dilarang, tetapi harus dihitung sebagai asupan karbohidrat.

Konsumsi dalam jumlah kecil, misalnya satu hingga tiga butir, umumnya lebih aman, terlebih jika dipadukan dengan protein atau lemak sehat seperti kacang atau yoghurt tanpa gula. Kombinasi ini membantu menahan lonjakan gula darah agar lebih terkendali.