Film THE CONJURING: LAST RIDES, Saat Setan Tak Lagi Menakutkan

Last Rides Membuktikan: Bahkan Setan Pun Bisa Capek
Last Rides Membuktikan: Bahkan Setan Pun Bisa Capek

Padahal, kisah keluarga Smurr punya potensi besar. Rumah sempit dengan banyak penghuni seharusnya itu bahan bakar sempurna untuk menciptakan klaustrofobia dan teror domestik. Namun di tangan naskah yang terburu-buru, semua itu hanya jadi figuran.

Michael Chaves memperkenalkan elemen baru: cermin. Ide ini sebenarnya menarikrefleksi sebagai pintu ke dunia arwah.

Tapi eksekusinya tak sekuat konsepnya. Ketika hantu muncul dari balik kaca, bukan dari kegelapan, penonton justru tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena tak lagi percaya.

Hantunya datang dengan cara yang salah. Membuka pintu, berjalan, menunduk ke arah kamera. Semua terasa mekanis. Seolah-olah film ini ingin berkata: “Hei, ingat Conjuring yang dulu?” tapi lupa bagaimana rasanya takut seperti dulu.

Tak bisa dipungkiri, chemistry antara Patrick Wilson dan Vera Farmiga masih menjadi alasan utama untuk tetap duduk di kursi bioskop.

Mereka membawa jiwa yang tulus dalam dunia yang penuh setan palsu. Namun The Conjuring: Last Rides terasa seperti lagu perpisahan yang dinyanyikan tanpa tenaga.

James Wan memang tak lagi di balik kamera, dan rasanya, semangat orisinal The Conjuring ikut pergi bersamanya. Kini yang tersisa hanyalah fan service—potongan nostalgia, cameo Annabelle, dan kilasan masa muda Ed-Lorraine yang tak lagi mencekam.

Baca Juga :  Waw, Periklindo Electric Vehicle Show 2023 Pertamina Dukung Percepatan Molis di Indonesia

Dari sisi sinematografi, film ini indah. Dari sisi konsep, menjanjikan. Tapi dari sisi rasa—yang seharusnya membuat jantung berhenti berdetak sesaat film ini gagal total. The Conjuring: Last Rides adalah surat cinta untuk penggemar lama, tapi sayangnya ditulis oleh tangan yang sudah lelah.