BISNIS  

Harga Minyak Dunia Terus Turun, Brent Kini Sekitar Rp1,42 Juta per Barel, Investor Tunggu Hasil Negosiasi AS-Iran

Harga Minyak Brent Jatuh di Bawah US$80, Pasar Pantau Negosiasi AS-Iran
Harga Minyak Brent Jatuh di Bawah US$80, Pasar Pantau Negosiasi AS-Iran

Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi internasional sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi harga minyak global.

Baca Juga :  Penjualan Perdana OPPO Find X8 Series Resmi di Seluruh Indonesia, Konsumen Nikmati Keuntungan Eksklusif
Baca Juga :  Pertamina Tandatangani Kerja Sama Bisnis Migas dengan Empat Negara Afrika

Analis IG menilai salah satu hambatan utama dalam proses negosiasi adalah perbedaan pandangan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Iran disebut masih menginginkan tingkat kendali tertentu terhadap jalur pelayaran tersebut, sedangkan Amerika Serikat diperkirakan tetap mempertahankan posisinya.

Di tengah upaya diplomatik tersebut, Presiden Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon pada Selasa. Kedua pemimpin membahas berbagai langkah untuk memperkecil perbedaan antara Washington dan Teheran demi membuka jalan menuju penyelesaian konflik yang lebih permanen.

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga mencermati data persediaan minyak Amerika Serikat. Berdasarkan laporan awal American Petroleum Institute (API), stok minyak mentah AS bertambah sekitar 2,7 juta barel pada pekan yang berakhir 31 Juli.

Laporan tersebut juga menunjukkan persediaan bensin meningkat, sedangkan stok bahan bakar jenis distilat seperti solar justru mengalami penurunan.

Kini perhatian investor tertuju pada laporan resmi dari US Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu waktu setempat. Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa hari ke depan.

Apabila negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan kemajuan signifikan, tekanan terhadap harga minyak diperkirakan masih akan berlanjut. Sebaliknya, jika pembicaraan menemui jalan buntu atau kembali terjadi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, harga minyak berpotensi berbalik menguat dalam waktu singkat.ubah mengikuti pergerakan nilai tukar.