Untuk mengatasi persoalan ini, sepanjang tahun 2022, Kemenkes mendorong agar layanan rujukan dapat diakses oleh seluruh pasien di pelosok Indonesia dengan menyalurkan bantuan untuk pemenuhan alat kesehatan penyakit prioritas, pendampingan kateterisasi jantung dan bedah jantung terbuka.
Hasilnya, dana bantuan pemerintah telah disalurkan kepada 150 RSUD dan 25 RSUP di 34 provinsi untuk pemenuhan alat kesehatan penyakit prioritas.
”Di akhir tahun ada dana sebesar 3,55 triliun, kita gunakan untuk memenuhi alkes di RS daerah. Sampai saat ini, dana bantuan pemerintah 2022 ke 150 RSUD sudah tersalurkan 96,2%. Sementara bantuan pemerintah ke RS vertikal tersalurkan 100%,” sebut Menkes.
Uoaya tersebut juga mendapatkan dukungan kerja sama dari 24 gubernur untuk mengembangkan RSUD sebagai jejaring layanan rujukan dengan rincian layanan jantung 24 provinsi, stroke di 13 provinsi, kanker di 12 provinsi, dan uronefrologi di 7 provinsi.
Tak hanya itu, Kemenkes juga telah melakukan program pendampingan kateterisasi jantung di 37 RS dan stroke di 3 RS.
Pilar ketiga yakni transformasi sistem ketahanan nasional. Pada pilar ini, Menkes mendorong agar seluruh alat kesehatan dan obat-obatan bisa diproduksi di dalam negeri dengan memfasilitasi change source untuk meningkatkan penggunaan Bahan Baku Obat (BBO) lokal.
Hasilnya, beberapa perusahaan telah mampu memproduksi obat, vaksin dan alat kesehatan seperti USG 2D, Antropometri Set dan Autoclave di Indonesia.
Selain industri farmasi dan alat kesehatan, Kemenkes juga telah mencanangkan tenaga cadangan kesehatan yang ditandai dengan penandatangan Nota Kesepahaman Penanggulangan Bencana dengan BMKG dan BNPB.
Pilar keempat, transformasi sistem pembiayaan. Transformasi ini mencakup anggaran dinas kesehatan akan mulai dirapikan agar tidak terjadi tumpang tindih. Kementerian Kesehatan telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri untuk membantu mengakomodir daerah untuk mengalokasikan 10% APBD untuk anggaran kesehatan.
Pilar kelima, transformasi Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan. Pada transformasi ini, Kemenkes akan fokus menambah jumlah dokter, dokter spesialis-sub spesialis dan dokter gigi. Menurut Menkes jumlah dokter maupun dokter spesialis di Indonesia masih kurang dan belum merata.
Sepanjang tahun 2022, Kemenkes berupaya meningkatkan jumlah dokter dengan mempermudah adaptasi dokter lulusan luar negeri, menambah kuota beasiswa bagi dokter spesialis, sub spesialis dan fellowship, dan membuka program internsip bagi dokter, dokter spesialis dan fellowship.
”Terima kasih kepada Kementerian Keuangan, kita sekarang sudah ada 2800-an dekat 3000-an, supaya produksi dokter spesialis lebih banyak lagi,” terang Menkes.
Pilar terakhir, transformasi teknologi kesehatan. Kemenkes telah meluncurkan satu platform kesehatan yang digunakan untuk merekam catatan medis pasien secara digital yakni Indonesia Health Services (IHS) yang diberi nama SATUSEHAT.
Melalui platform ini, pasien tidak perlu membawa berkas fisik saat dirujuk ke RS lainnya. Semua data kesehatan pasien telah terintegrasi di PeduliLindungi, menjadi milik pasien dan bisa dicek secara berkala. Sampai akhir tahun 2022, sebanyak 2.893 (77.04%) Puskesmas dan 370 (31%) RS di Jawa-Bali telah siap terintegrasi.
”Kita harapkan tahun ini, integrasi SATUSEHAT mulai keluar Jawa-Bali,” ujar Menkes.
Selain SATUSEHAT, pada pilar keenam ini, Kemenkes juga berhasil meluncurkan Biomedical & Genome Science Initiative (BGSi), sebuah inisiatif nasional untuk mendeteksi potensi penyakit di masa depan secara resmi diluncurkan pada 14 Agustus 2022. Dengan adanya BGSi ini, maka deteksi penyakit akan semakin presisi, sehingga pengobatannya juga semakin akurat.
Dalam implementasinya, BGSi turut melibatkan tujuh rumah sakit vertikal yaitu RSUPN RSCM, RS Pusat Otak Nasional (RS PON), RSPI Sulianto Saroso, RSUP Persahabatan, RS Kanker Dharmais, RSUP Sardjito, hingga RS Prof I.G.N.G. Ngoerah.
Selain fokus pada pemulihan sistem kesehatan nasional, Indonesia turut berupaya memperkuat arsitektur kesehatan global dengan menginisiasi 3 isu penting diantaranya harmonisasi protokol kesehatan global, membangun ketahanan sistem kesehatan dan memperluas manufacturing global dan hub riset untuk pencegahan, kesiapsiagaan dan respons pandemi.
Melalui 3 pertemuan kelompok kerja kesehatan G20 dan 3 side event, G20 bidang kesehatan menghasilkan beberapa deliverables diantaranya meluncurkan pandemic fund dan berhasil mengumpulkan dana 1,4 milyar dollar, mendukung percepatan Pengembangan vaksin, terapeutik dan diagnostik, serta pengakuan sertifikat vaksin bersama untuk mendukung mobilitas masyarakat.
Di kesempatan itu, Menkes mengatakan bahwa berbagai capaian kinerja positif yang telah ditorehkan Kementerian Kesehatan selama tahun 2022, menjadi modal penting untuk bertahan dalam menghadapi tantangan kesehatan di tahun 2023.
Untuk itu, implementasi transformasi kesehatan 6 pilar akan terus didorong di tahun 2023 guna memenuhi dan memeratakan pelayanan kesehatan yang berkualitas di seluruh pelosok Indonesia. (Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI/mf)






