Indonesia Mampu Kendalikan Varian Baru Covid-19 Selama 2022

Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin

SUMATERATODAY.COM,  Sektor kesehatan berhasil mencatatkan berbagai capaian positif sepanjang tahun 2022. Mulai dari penanganan pandemi COVID-19 dan vaksinasi serta transformasi kesehatan.

Pada penanganan pandemi, Menteri Kesehatan Budi G. Sadikin mengungkapkanmenyebutkan bahwa Indonesia berhasil dalam penanganan COVID-19.

Terbukti sejak mengalami puncak Omicron pada Februari 2022 lalu, Indonesia mampu mengendalikan berbagai varian baru yang terus berkembang selama 2022.

”Adanya gelombang baru sesudah Omicron ternyata tidak membuat adanya lonjakan baru. Di beberapa negara besar mengalami kenaikan, tapi di Indonesia tidak,” kata Menkes.

Menkes membeberkan, setidaknya terdapat dua upaya yang dilakukan Kemenkes untuk mengatasi hal ini yakni peningkatan kapasitas testing, tracing dan treatment serta percepatan vaksinasi COVID-19 baik dosis lengkap maupun booster yang mulai diberikan pada 12 Januari 2022 lalu.

Baca Juga :  Poin Festival 2022 Telkomsel di Penghujung Tahun Baru 2023

Berbekal situasi ini, pada 30 Desember 2022 lalu Presiden Joko Widodo secara resmi mencabut PPKM di seluruh Indonesia, yang dilanjutkan dengan penutupan RSDC Wisma Atlet Kemayoran pada 31 Desember 2022.

Selain penanganan pandemi, pada saat yang sama Kementerian Kesehatan berupaya membangun kembali sistem kesehatan Indonesia yang sempat porak poranda akibat hantaman pandemi COVID-19.

Belajar dari krisis kesehatan ini, mulai tahun 2021 Kementerian Kesehatan menginisiasi transformasi kesehatan 6 pilar yang merupakan program prioritas Menkes Budi G. Sadikin.

Adapun keenam pilar tersebut diantaranya transformasi layanan primer, transformasi layanan rujukan, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi sistem pembiayaan kesehatan, transformasi SDM kesehatan, dan transformasi teknologi kesehatan.

Pilar pertama adalah transformasi layanan primer. Pada pilar ini, Kemenkes berupaya memperkuat upaya promotif preventif sekaligus mendekatkan akses layanan kesehatan yang berkualitas dengan merevitalisasi 300 ribu posyandu yang dilengkapi dengan kader kesehatan yang berkualitas dan alat kesehatan seperti USG dan alat periksa jantung.

Baca Juga :  Juru Bicara KPK Sebut Penangkapan Gubernur Papua LE Prosedural dengan Dukungan Brimob

Layanan posyandu juga dibuat lebih fokus pada upaya promotif preventif seperti skrining dan surveilans, sasarannya juga diperluas bukan hanya ibu dan anak tetapi semua siklus hidup mulai dari bayi hingga lansia.

”Kita ingin memastikan bahwa ibu dan anak kita terurus dengan baik, alat timbangan yang hanya ada di 10 ribu Puskesmas tadi, kita bagi ke 300 ribu posyandu, supaya semua ibu hamil bisa diperiksa dengan USG,” kata Menkes.

Disamping penguatan layanan kesehatan primer, Menkes juga menata laboratorium kesehatan masyarakat di seluruh Indonesia, memperkuat upaya promotif di layanan primer dengan menambah 3 jenis imunisasi rutin dari 11 menjadi 14 jenis vaksin, melaksanakan BIAN, pelaksanaan Active Case Finding (ACF) Tuberculosis dan memastikan peningkatan kesehatan ibu dan anak melalui 5 gerakan cegah stunting yakni Aksi Bergizi, Bumil Sehat, Posyandu Aktif, Jambore Kader dan Cegah Stunting itu Penting.

Menkes menyebutkan berbagai program pada pilar pertama transformasi kesehatan telah menunjukkan progress yang signifikan yang dibuktikan dengan adanya peningkatan temuan kasus TBC sebanyak 685.250 (70.7%) dari estimasi 969.000 kasus. Capaian ini merupakan yang tertinggi di Indonesia.

Selain itu, sampai akhir Desember sekitar 75,5% balita sudah dipantau pertumbuhannya secara rutin di posyandu.

Kemudian, untuk cakupan Imunisasi dasar lengkap, hingga November 86,4% bayi usia 0-11 sudah di Imunisasi, selanjutnya 99.263 bayi baru lahir sudah di Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK).

Sementara itu, 14 skrining terhadap penyakit prioritas telah dilaksanakan serta 2.289.871 siswa di 6.420 sekolah telah berpartisipasi dalam Gerakan #AksiBergizi serentak.

”Menyadari pentingnya kegiatan edukasi dan promosi, Kemenkes akan terus mendorong kegiatan ini kepada masyarakat,” ujar Menkes.

Pilar kedua adalah transformasi layanan rujukan. Pada pilar ini, Kemenkes berupaya memenuhi dan memeratakan fasilitas pelayanan kesehatan untuk 4 layanan spesialistik katastropik yakni jantung, stroke, kanker, dan ginjal yang jumlahnya masih sangat terbatas dan belum merata.