Inspiratif, Lulus di Usia 19 Tahun, Farras Ulinnuha Cetak Sejarah Wisudawan Termuda Kedokteran UGM

Wisudawan Termuda Kedokteran UGM, Farras Ulinnuha Ingin Mengabdi ke Lampung
Wisudawan Termuda Kedokteran UGM, Farras Ulinnuha Ingin Mengabdi ke Lampung

SUMATERATODAY.COM– Di tengah lautan toga hitam dan senyum bangga keluarga yang memenuhi Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM), satu sosok muda mencuri perhatian dalam prosesi Wisuda Program Sarjana dan Sarjana Terapan, Kamis (27/11) lalu.

Ia adalah Farras Ulinnuha, wisudawan termuda yang berhasil menuntaskan pendidikan Program Studi Kedokteran, International Undergraduate Program (IUP) angkatan 2021, pada usia yang belum genap dua dekade.

Gadis asal Lampung ini resmi menyandang gelar sarjana di usia 19 tahun 8 bulan 17 hari, jauh di bawah rata-rata usia lulusan Program Sarjana UGM yang tercatat 22 tahun 6 bulan 15 hari dari total 1.729 wisudawan.

Baca Juga :  Garuda Bersiap Terbang! Patrick Kluivert: Ini Daftar Skuad Timnas Indonesia untuk Kualifikasi Piala Dunia 2026

Prestasi akademik ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi bagi Farras dan keluarganya, tetapi juga menjadi kisah inspiratif tentang disiplin, keberanian menempuh jalur akselerasi, serta konsistensi dalam mengejar cita-cita.

Farras mengisahkan bahwa perjalanan akademiknya memang sudah dimulai lebih cepat dibandingkan anak seusianya. Sejak pendidikan dasar, ia telah menempuh jalur percepatan.

Ia masuk Sekolah Dasar pada usia 4,5 tahun, kemudian menyelesaikan pendidikan SMP dalam waktu tiga tahun. Bahkan, ia sempat mengikuti ujian nasional untuk masuk SMP saat masih duduk di bangku kelas 5 SD, sebuah kesempatan yang kala itu masih diperbolehkan dalam sistem pendidikan nasional.

“Waktu itu saya ikut ujian bersama kakak kelas. Setelah itu proses berjalan cukup cepat. Di SMA pun saya mengikuti sistem akselerasi dan hanya menempuh dua tahun,” tutur Farras saat ditemui seusai prosesi wisuda, Kamis (4/12).

Masuk perguruan tinggi pada usia 16 tahun tentu bukan perkara mudah, terlebih di program studi yang dikenal padat dan menuntut seperti Kedokteran.

Farras mengaku harus beradaptasi dengan berbagai tantangan, mulai dari budaya belajar yang jauh lebih mandiri, tekanan akademik yang tinggi, hingga dinamika pertemanan dengan mahasiswa yang sebagian besar memiliki usia lebih matang.

“Awal kuliah cukup berat, terutama secara mental. Teman-teman rata-rata lebih tua, pengalaman mereka juga lebih banyak. Tapi lingkungan di Fakultas Kedokteran UGM sangat suportif dan inklusif, jadi saya perlahan bisa menyesuaikan diri,” ungkapnya.

Ketertarikan Farras pada dunia kedokteran bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan lingkungan rumah sakit.

Ia sering menemani sang ibu yang bekerja di fasilitas kesehatan, bahkan membantu aktivitas di klinik keluarga.

Dari pengalaman itu, tumbuh ketertarikan dan rasa ingin tahu terhadap dunia medis serta pelayanan kesehatan.

“Saya sudah cukup familiar dengan dunia kedokteran sejak kecil. Ketika tahu UGM memiliki reputasi kuat di bidang ini, saya merasa di sinilah tempat saya belajar. Harapan saya sederhana, ingin menjadi dokter dan membantu pemerataan layanan kesehatan di Indonesia,” ujarnya dikutip sumateratoday dari laman UGM

Selain berfokus pada akademik, Farras juga aktif membangun keseimbangan kehidupan kampus dengan mengikuti berbagai organisasi mahasiswa.

Ia tergabung dalam Asian Medical Students’ Association (AMSA) dan Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA). Keterlibatannya di organisasi ini memberinya ruang untuk mengembangkan soft skills, memperluas jejaring, serta belajar tentang isu kesehatan global dan kemanusiaan.

“Organisasi jadi tempat saya belajar hal-hal di luar kelas tanpa tekanan nilai. Saya bisa berdiskusi, berjejaring, dan melihat dunia kedokteran dari perspektif yang lebih luas,” jelasnya.

Salah satu momen paling berkesan selama masa studi adalah ketika Farras dan teman-temannya mendapat kesempatan masuk langsung ke ruang operasi saat masa preklinik. Dengan didampingi seorang dokter ortopedi yang juga dosen pengampu, mereka diperkenalkan pada suasana kerja di Ruang Operasi Kecil.

“Itu pengalaman yang luar biasa. Masih awal-awal kuliah, tapi sudah bisa melihat langsung bagaimana proses di ruang operasi. Saat itu saya semakin yakin bahwa ini bidang yang memang ingin saya tekuni,” kenangnya dengan mata berbinar.

Menutup masa studinya sebagai sarjana, Farras menyimpan harapan besar untuk melanjutkan pendidikan profesi dokter. Ia juga menegaskan keinginannya untuk kembali ke Lampung dan mengabdikan ilmunya bagi masyarakat di daerah asalnya. Bagi Farras, capaian ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang sebagai tenaga medis.

Ia pun berharap kisahnya dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain, terutama mereka yang sedang berjuang dan merasa tertinggal. Menurutnya, setiap orang memiliki garis waktu masing-masing dalam meraih kesuksesan.

“Dulu saya juga sempat merasa tertekan dan putus asa. Tapi Alhamdulillah, kalau dijalani dengan konsisten, satu per satu bisa dilewati. Intinya, setiap orang punya timeline sendiri, jadi tetap semangat dan lakukan yang terbaik,” pungkas Farras.

Dengan usia yang masih sangat muda, Farras Ulinnuha menorehkan bukti bahwa ketekunan, keberanian mengambil tantangan, dan lingkungan akademik yang mendukung mampu melahirkan generasi dokter masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga penuh empati dan semangat pengabdian.