Dalam riwayat yang berkembang di lingkungan pesantren, beliau bermimpi mengajar kitab kuning. Tidak lama setelah mimpi tersebut, kemampuan beliau memahami kitab-kitab fiqih berkembang sangat pesat.
Padahal sebelumnya beliau dikenal sebagai santri biasa yang membutuhkan waktu lebih lama memahami pelajaran.
Perubahan itu membuat banyak orang terkejut. Guru-guru dan sesama santri menyaksikan sendiri bagaimana Mbah Ma’roef mampu membaca, memahami, sekaligus menjelaskan isi kitab-kitab klasik dengan sangat baik.
Kemampuan tersebut kemudian diyakini sebagai bentuk anugerah ilmu laduni, yakni ilmu yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya melalui pertolongan dan karunia-Nya, bukan semata-mata hasil belajar secara lahiriah.
Menjadi Guru Para Santri
Keilmuan Mbah Ma’roef terus berkembang hingga akhirnya beliau dipercaya mengajar para santri.
Bahkan, dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa guru yang sebelumnya mengajarnya kemudian ikut memperdalam ilmu kepada beliau karena kagum atas keluasan pemahamannya terhadap kitab-kitab fiqih.
Meski demikian, Mbah Ma’roef tetap rendah hati. Beliau memilih melanjutkan pengembaraan ilmiahnya ke sejumlah pesantren lain di Jawa, di antaranya ke Semarang, Langitan Tuban, hingga Bangkalan untuk berguru kepada ulama-ulama besar pada masanya.
Pendiri Pesantren Kedunglo
Sekembalinya dari pengembaraan ilmu, Mbah Ma’roef kemudian mendirikan Pondok Pesantren Kedunglo di Kediri.
Pesantren tersebut berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama dan tokoh agama. Mbah Ma’roef dikenal sebagai pendidik yang menanamkan pentingnya akhlak, kesabaran, keikhlasan, serta kedekatan kepada Allah SWT dalam setiap proses pembelajaran.
Kepribadiannya yang sederhana membuat masyarakat dari berbagai kalangan datang meminta doa, nasihat, hingga bimbingan spiritual.
Warisan Spiritual yang Terus Hidup
Jejak perjuangan Mbah Ma’roef tidak berhenti pada masa hidupnya. Dari keluarga besar Pesantren Kedunglo kemudian lahir Sholawat Wahidiyah melalui putranya, KH Abdoel Madjid Ma’roef, yang mulai disusun pada 1963 setelah beliau menerima amanah spiritual untuk memperbaiki mental masyarakat melalui jalan batiniah.
Hingga kini, jutaan pengamal Sholawat Wahidiyah tersebar di berbagai daerah Indonesia maupun luar negeri. Mujahadah rutin dan Haul Kedunglo setiap tahun selalu dipadati jamaah yang datang untuk berdoa, berzikir, dan mengenang perjuangan para ulama Kedunglo.
Kisah hidup Mbah Ma’roef menjadi pengingat bahwa kesabaran menghadapi ujian, kesungguhan dalam mencari ilmu, serta keikhlasan beribadah dapat melahirkan keberkahan yang luar biasa. Perjuangannya menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih kemuliaan apabila disertai tekad, tirakat, dan tawakal kepada Allah SWT.






