Gibran: Kebaya Bukan Sekadar Busana, Tapi Bahasa Perdamaian Dunia

Kebaya Menari dari Nusantara ke Vatikan: Wapres Dukung Diplomasi Perdamaian Indonesia
Kebaya Menari dari Nusantara ke Vatikan: Wapres Dukung Diplomasi Perdamaian Indonesia

“Kami membawa semangat keberagaman Indonesia. Ada anak muda, ada tokoh lintas iman. Ini bukan soal agama tertentu, tapi soal persatuan dan cinta budaya,” jelasnya.

Baca Juga :  Marak Hoaks Loker Petugas Haji, Biro HKP: Waspada, Cek Infonya di Web dan Medsos Kemenag

Dari Kebaya Janggan ke Kebaya Kartini: Simbol Perjalanan Perempuan Indonesia

Anggota komunitas lain, Miranti Serat, mengungkapkan bahwa mereka tengah menyiapkan buku “Kebaya untuk Dunia” yang akan diusulkan ke UNESCO. Buku ini memuat perjalanan panjang kebaya dari masa ke masa — dari kebaya Janggan, kebaya Encim, hingga kebaya Kartini — sebagai refleksi evolusi perempuan Indonesia yang tangguh dan anggun.

“Pak Wapres tampak terkesan saat melihat naskahnya. Kami ingin dunia tahu bahwa kebaya bukan sekadar pakaian, tetapi bahasa visual perempuan Indonesia dalam menyampaikan pesan damai dan keindahan,” ungkap Miranti.

Dari Lantai Tari ke Diplomasi Dunia

Melalui tarian dan busana, komunitas ini tidak hanya menari di atas panggung, tetapi juga menari dalam arena diplomasi internasional — menebar pesan bahwa perdamaian bisa disampaikan lewat gerak dan kain.
Kebaya Menari menjadi jembatan antara warisan leluhur dan masa depan dunia yang penuh harmoni.