Kembangkan Kurikulum Cinta untuk Perkuat Toleransi
Menag Nasaruddin juga memperkenalkan kurikulum cinta yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Agama. Kurikulum ini bertujuan untuk menyampaikan nilai-nilai agama dengan cara yang damai dan penuh kasih sayang, bukan dengan kebencian.
“Jangan sampai syiar agama disampaikan dengan kebencian kepada orang lain. Setiap manusia, meskipun berbeda agama, wajib saling mencintai. Itu yang disebut ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia),” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa bangsa Indonesia dipersatukan oleh semangat kebangsaan (ukhuwah wathaniyah), serta oleh pengalaman sejarah sebagai bangsa yang pernah dijajah (ukhuwah insaniyah).
Melalui kurikulum cinta ini, diharapkan generasi penerus bangsa dapat tumbuh dalam harmoni dan kedamaian, tanpa saling mengganggu atau menebar kebencian.
“Mari kita hidup dalam kasih sayang satu sama lain, agar tidak ada jarak di antara kita. Semua agama seharusnya tidak mengajarkan kebencian atau menonjolkan perbedaan, tetapi lebih menekankan perjumpaan dan kebersamaan antarumat,” ajaknya.
Menag menutup pidatonya dengan mengajak siapa pun yang ingin berbicara tentang kedamaian untuk datang ke Masjid Istiqlal.
“Kebenaran universal tidak bisa dipilah-pilah. Dan siapa yang ingin berbicara tentang perdamaian, datanglah ke Istiqlal. Istiqlal artinya merdeka,” tandasnya






