RELIGI  

Tandu Asli Jenderal Sudirman, Saksi Bisu Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Tandu Asli Jenderal Sudirman
Tandu Asli Jenderal Sudirman.

SUMATERATODAY.COM – Panglima Besar Jenderal Sudirman lahir di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Januari 1916.

Beliau adalah putra dari Karsid Kartawiraji dan Siyem. Namun, Sudirman lebih banyak tinggal bersama pamannya, Raden Cokrosunaryo, yang merupakan seorang camat.

Sudirman menempuh pendidikan dasar di HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Cilacap. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan di Kweekschool (sekolah guru) Muhammadiyah di Surakarta.

Namun, ia harus berhenti sekolah karena kekurangan biaya.

Baca Juga :  Wafat Saat Menuju Muktamar NU di Lampung

Setelah berhenti sekolah, Sudirman bekerja sebagai guru di sekolah dasar Muhammadiyah di Cilacap. Ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya, seperti menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah.

Pada tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia. Sudirman bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk melawan penjajah Jepang. Ia kemudian diangkat menjadi Panglima Besar TKR pada tanggal 12 November 1945.

Di bawah kepemimpinan Sudirman, TKR berhasil melakukan Perang Gerilya untuk melawan Belanda. Perang Gerilya ini berlangsung selama empat tahun, dari tahun 1945 hingga 1949.

Selama Perang Gerilya, Sudirman memimpin langsung pasukannya dari atas tandu. Ia melakukan perjalanan sejauh 12.000 kilometer di berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Baca Juga :  Masa Depan NU

Sudirman meninggal dunia pada tanggal 29 Januari 1950 di Magelang, Jawa Tengah. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta.

Rekam Jejak Jenderal Sudirman di Museum Sasmitaloka Yogyakarta

Rekam jejak Jenderal Sudirman dilestarikan di Museum Sasmitaloka Yogyakarta. Museum ini terletak di Jalan Bintaran Kulon No. 12, Yogyakarta.

Museum Sasmitaloka Yogyakarta memiliki koleksi yang berkaitan dengan kehidupan dan perjuangan Jenderal Sudirman. Koleksi-koleksi tersebut antara lain, Tandu yang digunakan Jenderal Sudirman selama Perang Gerilya, Dokar yang digunakan Jenderal Sudirman untuk berkeliling, Patung Jenderal Sudirman, Perabotan rumah tangga Jenderal Sudirman, Piagam penghargaan yang diterima Jenderal Sudirman dan Padasan atau gentong besar untuk menampung air wudhu.